PPDB SMP, Banyak Siswa Kedungupit & Gabus di Sragen Tak Dapat Sekolah

Ilustrasi Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). (Arif Syaefudin/Detikcom)
10 Juli 2019 16:10 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Sejumlah siswa dari desa-desa yang jauh dari sekolah tidak mendapatkan sekolah negeri yang diinginkan, seperti di Desa Kedungupit Kecamatan Sragen Kota dan Desa Gabus Kecamatan Ngrampal.

Ada pula Desa Jenggrik dan Mojokerto Kecamatan Kedawung serta Krebet Masaran. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen tak bisa berbuat apa pun karena kebijakan zonasi mengacu sistem.

Dua siswa yang tidak beruntung di antaranya adalah Revian Albi Permana asal Kedungupit, Kecamatan Sragen Kota, dan Azila Lindu Prasetya asal Guworejo, Kecamatan Karangmalang. Mereka tidak diterima di semua pilihan mereka saat Solopos.com memantau pengumuman Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online di SMPN 4 Sragen, Selasa (9/7/2019).

Kepala SMPN 4 Sragen, Nining Kristanti, membenarkan dua nama tersebut tidak diterima di semua pilihan sekolah saat ditemui Solopos.com, Selasa siang. Jarak Desa Kedungupit dengan SMPN 4 Sragen mencapai 8,2 km. Padahal Desa Kedungupit merupakan desa tempat tinggal Kepala Disdikbud Sragen Suwardi.

Sementara itu, jarak Desa Guworejo ke SMPN 4 Sragen hanya 4,2 km. “Orang tua siswa sempat datang ke sekolah dan meminta agar anaknya diterima. Si anak maunya sekolah di dalam kota, tetapi jarak desa dan sekolah terlalu jauh. Siswa yang diterima di SMPN 4 Sragen paling jauh hanya 3 km. Saya sempat menyarankan lewat jalur prestasi di luar zona, tetapi tidak mau,” ujar dia.

Nining juga menerima aduan orang tua yang anaknya salah dalam menentukan pilihan. Pilihan pertama dan kedua di sekolah negeri sementara pilihan ketiga sekolah swasta. Dua pilihan pertama tidak lolos. “Karena tidak lolos anaknya menangis tidak mau di sekolah swasta. Semua pilihan ada di dalam kota sementara rumahnya di Kedawung. Kenapa pilihan ketiga tidak di SMPN Kedawung?”

Di SMPN 2 Sragen, sebanyak 188 orang tua siswa mencabut berkas karena tidak diterima di sekolah tersebut. Pencabutan berkas untuk melengkapi persyaratan pada sekolah yang menerima pada pilihan kedua dan ketiga.  Aji, 40, salah satu orang tua siswa asal Nglorog, Sragen, yang mengambil berkas di SMPN 2 Sragen mengalihkan pendaftaran ke SMPN 4 Sragen karena anaknya diterima di sekolah tersebut.

“Pilihan pertama SMPN 2 Sragen, pilihan kedua SMPN 1 Sragen, dan pilihan ketiga SMPN 4 Sragen. Ternyata diterima di pilihan ketiga. Kemarin sempat putus asa dan terlanjur mendaftar ke sekolah lain. Di sekolah lain itu sudah membayar Rp980.000. Tapi yang terlanjur daftar bisa diminta lagi,” kata dia.

Di SMPN 1 Sragen puluhan orang tua dan anak berkerumun di depan papan pengumuman. Dadang, 49, warga Purwoasri, Kroyo, Karangmalang, Sragen, bersyukur anaknya diterima di SMPN 1 Sragen di urutan terakhir, yakni nomor 173. Jarak Kroyo dengan SMPN 1 Sragen mencapai 2,9 km sehingga masuk grade keenam.

“Kami sempat waswas karena posisinya naik-turun. Awalnya di angka 100, turun lagi di angka 172, dan sempat hilang. Akhirnya muncul di angka terakhir. Yang di SMPN 1 Sragen ini anak bungsu. Kalau yang sulung diterima di SMAN 3 Sragen, tetapi pengumuman pasti masih menunggu nanti malam,” kata dia.

Sekretaris PPDB Disdikbud Sragen, Sunar, mengatakan banyak siswa yang tidak beruntung dari wilayah Kedungupit dan Desa Gabus. “Ya, itulah kebijakan. Saya yang ikut buat draf PPDB dan tanda tangan, ternyata banyak siswa dari desa saya yang tidak beruntung karena tidak bisa sekolah negeri. Lagi-lagi karena jarak. Kedungupit dan Gabus terlalu jauh dengan sejumlah sekolah di dalam zona. Yang dekat justru di Sukodono yang beda kecamatan dan harus menyeberang sungai,” tutur dia.