Bukan Dangdut & Campursari, Hiburan di Desa Tanon Sragen Pentas Hadrah dan Rebana

Warga melintasi bagian depan Balai Desa Tanon, Kecamatan Tanon, Sragen, Selasa (9/7 - 2019). (Moh. Khodiq Duhri)
12 Juli 2019 04:00 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Keberadaan tiga pondok pesantren (ponpes) di Desa/Kecamatan Tanon, Sragen memengaruhi kehidupan sosio kultural masyarakat. Saat ada kegiatan di masyarakat hiburannya bukan dangdut dan campursari melainkan pentas hadrah dan rebana.

Ketiga ponpes itu adalah Ponpes Roudhotut Tholibien I, Roudhotut Tholibien II, dan Ponpes Nurul Qodim. Saat desa lain masih kental dengan kebiasaan pentas musik dangdut atau campursari, di Desa Tanon justru kental dengan tradisi pengajian akbar dan hiburan pentas musik Islami seperti hadrah atau rebana.

“Bisa dibilang Tanon itu adalah Desa Santri. Kebetulan tiga ponpes itu berkultur NU [Nahdhatul Ulama]. Biasanya, apapun petunjuk atau perkataan dari sang kiai akan dipatuhi warga sekitar. Kalau Pak Kiai dawuh tidak mengizinkan ada pentas dangdut atau campursari, warga sekitar pasti menuruti perintah beliau,” ujar perangkat Desa Tanon, Nurman Asyari, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Selasa (9/7/2019).

Keberadaan tiga ponpes dengan ratusan santri yang mendalami ilmu agama mendukung terciptanya lingkungan yang aman dan nyaman bagi warga sekitar. Selain mendidik santri dari luar daerah, anak kecil, remaja, hingga orang dewasa juga bisa ikut belajar mendalami ilmu agama di tiga ponpes tersebut.

Mereka terbiasa mengikuti pengajian rutin yang diselenggarakan tiga ponpes ini. Warga sekitar menyadari ilmu agama menjadi dasar atau bekal kuat bagi anak didik dalam menghadapi kehidupan di dunia yang fana.

“Alhamdulillah, gangguan kamtibmas [keamanan dan ketertiban masyarakat] nyaris tidak terdengar di desa kami. Ini semua tentu tidak lepas dari peran tiga ponpes tersebut dalam mendidik anak-anak dan remaja serta membimbing warga sekitar menuju kehidupan yang lebih baik,” jelas Nurman.

Keberadaan tiga ponpes mengilhami berdirinya sejumlah grup musik rebana atau hadrah di Desa Tanon. Sejumlah grup musik rebana tersebut kerap menerima order mengisi hiburan di pesta pernikahan, pengajian umum, upacara pelepasan dan tasyakuran haji, tasyakuran khitanan, sepasaran bayi, dan lain-lain. “Jadi, karena di sini ada banyak grup musik rebana, warga jarang mengundang grup musik dangdut atau campursari. Grup musik rebana jadi ajang untuk menyalurkan hobi sekaligus ladang untuk mencari tambahan penghasilan bagi warga sekitar,” papar Nurman.

Kepala Urusan Pelayanan Pemdes Tanon, Dawam, berharap Pemkab Sragen bisa menangkap peluang untuk mengembangkan potensi Tanon yang dikenal sebagai Desa Santri. Bantuan dari Pemkab Sragen dalam setiap kegiatan keagamaan yang diselenggarakan di Desa Tanon sangat diharapkan pemdes setempat.