Kampung Iklim Dusun Karangkidul Karanganyar Diverifikasi

Tim verifikasi program Kampung Iklim mengecek kondisi lapangan dengan berbincang bersama warga Dusun Karangkidul, Desa Pulosari, Kecamatan Kebakkramat, Jumat (12/7/2019). - Sri Sumi Handayani
12 Juli 2019 21:35 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Tim verifikasi program Kampung Iklim tingkat utama berkunjung ke Dusun Karangkidul, Desa Pulosari, Kecamatan Kebakkramat, Jumat (12/7/2019). Mereka Sigit dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah (Jateng) dan Yulianto Teguh Wibowo dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kader Kampung Pro Iklim (Proklim) menjamu mereka di Taman Harmoni RT 002.

Verifikasi dimulai dari mendengarkan pemaparan Ketua Kampung Proklim, Suyono. Dia menjelaskan sejumlah program yang telah dilakukan warga dan kader, seperti pengendalian kekeringan dengan membuat tandon di bawah talang air atap rumah, biopori, dan lain-lain. Program penghematan energi listrik melalui meninggikan bangunan rumah. Peningkatan ketahanan pangan dilakukan melalui sistem pola tanam dan irigasi.

Program berikutnya pemanfaatan pekarangan rumah. Suyono mengklaim 80 persen warga Dusun Karangkidul memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayur dalam polybag. "Program pengendalian penyakit, melaksanakan 3M, yakni menguras, menimbun, dan menabung. Menabung sampah anorganik pada bank sampah. Warga memilah dari rumah. Bank sampah buka dua kali dalam satu bulan, yakni pekan kedua dan keempat," tutur dia.

Pada 2017, bank sampah mengelola 112 nasabah, sampah yang dikelola 13.349 kilogram (kg) dengan saldo tabungan Rp20,9 juta. Bank sampah dikelola perusahaan dan Yayasan Harmoni, selaku pendamping. Pada 2018, bank sampah diambil alih warga tetapi Yayasan Harmoni masih memberikan subsidi. Jumlah nasabah 210 orang, sampah yang dikelola 9.453 kg, dengan saldo Rp18,5 juta. Pada 2019, jumlah nasabah 263 orang, sampah yang dikelola 5.921 kg, dan saldo Rp5,1 juta hingga pertengahan tahun.

"Pengelolaan sampah melalui bank sampah. Kami mengepak dan mengantar ke pengepul. Kalau sampah organik, kami masukkan komposter. Ada sejumlah komposter dan sudah menghasilkan pupuk cair. Kreativitas daur ulang sampah anorganik menjadi sejumlah barang dan kerajinan," jelas dia.

Salah satu Verifikator Utama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Yulianto Teguh Wibowo, menyampaikan tim verifikasi memetakan kondisi dan karakteristik wilayah. Dia menyebut tiga hal utama yang disentuh program kampung iklim yakni aksi adaptasi, mitigasi, dan kelembagaan. Mereka mengecek program proklim mana yang tepat dengan memperhatikan kerentanan, orientasi, dan aksi proklim.

"Kami identifikasi kerentanan dan dampak perubahan iklim. Masing-masing lokasi beda karakteristik. Indonesia berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca dari 29 persen hingga 41 persen sampai 2030. Program ini [Kampung Iklim] salah satu upaya menggerakkan semua lini hingga RW, dusun, desa atau kelurahan," jelas Bowo, sapaan akrabnya saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat.

Bowo menyoroti urusan kelembagaan karena berkaitan dengan keberlangsungan kegiatan. Rata-rata lembaga dan program hanya berjalan satu tahun. Tetapi, dia mengapresiasi peningkatan peserta program Kampung Iklim. Hal itu menunjukkan warga Indonesia mulai peduli terhadap manfaat jangka panjang merawat lingkungan.

"Intinya bukan lomba, karena ini bukan lomba. Kami mengapresiasi upaya menggerakkan masyarakat menjaga lingkungan sehat, asri. Intinya kontribusi masyarakat, menggerakkan, dan semangat," ungkap dia.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Karanganyar, Suwarna, menyampaikan tujuh wilayah di Karanganyar mengikuti Kampung Iklim. Dia berharap program Kampung Iklim dapat ditularkan ke desa atau kelurahan lain. Efek jangka panjang pelaksanaan program itu berpengaruh terhadap lingkungan. "Yang masih kurang adalah memasyarakatkan program Kampung Iklim secara luas. Program ini melibatkan kesadaran masyarakat," ujar dia.

Hal senada disampaikan Pembina Proklim Dusun Karangkidul, Suryono Arief Wijaya. Dia berharap seluruh pihak terkait ambil bagian dalam program tersebut sesuai kewenangan masing-masing. Program tersebut terlaksana apabila masyarakat memiliki kesadaran terhadap lingkungan dan kerja sama.

"Kerja sama membentuk kampung bersih, sehat, menghasilkan ketahanan pangan, dan pengelolaan sampah. Diawali dari Yayasan Harmoni memberikan pelatihan dan edukasi. Proklim itu menangani semua aspek dari pengendalian kekeringan, ketahanan pangan, saluran irigasi pertanian, pengendalian penyakit, mitigasi, pengelolaan sampah, dan lain-lain. Intinya warga mau bersama merubah kebiasaan," ujar Suyono.