Harga Elpiji Melon di Sragen Melonjak, Tembus Rp25.000/kg

Elpiji bersubsidi kemasan tabung kapasitas 3 kg. (Antara/Ali Khumaini)
13 Juli 2019 13:10 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Harga elpiji melon 3 kg tembus sampai Rp25.000/tabung di wilayah Sragen Kota. Tinggi harga elpiji melon tersebut dipicu karena tingginya permintaan. Akibatnya pedagang kaki lima (PKL) sambat dengan mahalnya harga elpiji sejak dua pekan terakhir.

Keluhan itu disampaikan Nur Hasan, 28, pedagang ayam krispi di pinggir Jl. Ahmad Yani Nglangon, Karangtengah, Sragen Kota, Sragen, saat ditemui Solopos.com, Sabtu (13/7/2019). Nur membuka usaha ayam krispi di pinggir jalan selama empat tahun terakhir. Untuk menggoreng ayam krispi, Nur membutuhkan elpiji sebanyak dua tabung per hari. Harga paling murah Rp23.000/tabung tetapi ada yang mahal sampai Rp25.000/tabung.

“Bagi kami yang penting ada barang. Walaupun mahal tetap kami beli. Kalau tidak ya kami tidak bisa jualan. Saya tidak tahu harganya melambung tinggi seperti itu. Padahal harga di SPBU [stasiun pengisian bahan bakar umum] hanya Rp16.000/tabung. Ini seperti permainan pasar. Saya tanya kepada penjual elpiji eceran, katanya dari kulakannya sudah tinggi,” ujar Nur.

Nur mengatakan tingginya harga elpiji sudah dua pekan terakhir. Kendati harga elpiji naik, Nur tak berani menaikan harga jual ayam krispinya. Kalau harga ayam krispi naik, dia khawatir pelanggannya akan lari.

Seorang pedagang kelontong di kios renteng Nglangon, Karangtengah, Sragen, Siti, 45, mengatakan harga elpiji mulai naik setelah Lebaran lalu. Dia mengatakan selama musim kemarau pasti harga elpiji naik dan saat musim penghujan harga elpiji turun. Siti menjual elpiji melon seharga Rp23.000/tabung karena kulakannya sudah Rp20.000-21.000/tabung.

“Untuk mencari elpiji memang susah. Saya mendapatkan elpiji lima tabung saja harus menunggu sepekan dan harganya pun fluktuasi. Kadang dapat murah Rp18.000/tabung tetapi kadang dapat dengan harga Rp20.000/tabung. Kebutuhan harian itu bisa sampai 15 tabung tapi dapatnya hanya itu,” ujar Siti.

Siti mengatakan tingginya permintaan tabung yang membuat harga elpiji naik. Permintaan yang tinggi itu, terang dia, digunakan petani sebagai bahan bakar pompa air. “Iya, satu petani belinya 5-10 tabung hanya untuk kepentingan sedot air untuk memenuhi irigasi sawahnya. Hal seperti ini sudah seperti langganan terjadi di Sragen ini,” terangnya.

Sebelumnya, Kasi Pembinaan Distribusi, Jasa, dan Metrologi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen, Joko Suranto, mengakui bila permintaan pasar elpiji di Sragen tinggi pada musim kemarau karena elpiji digunakan untuk bahan bakar pompa air irigasi. Joko sudah berkoordinasi dengan PT Pertamina untuk menambah kuota.

“Dari koordinasi itu, sudah ada rencana tambahan kuota sampai 3% dari total kuota harian Rp32.000/hari. Mungkin akan disalurkan pekan depan,” ujarnya.