80-An Warga Sukoharjo Ikut Jadi Korban Penipuan PT Krishna Alam Sejahtera Klaten

Polisi berjaga di depan kantor PT Krishna Alam Sejahtera di Dukuh Kringinan, Desa Kajen, Kecamatan Ceper, Klaten, Sabtu (13/7/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
14 Juli 2019 17:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Sekitar 80 warga Sukoharjo ikut menjadi korban dugaan penipuan investasi bodong PT Krishna Alam Sejahtera di Kringinan, Desa Kajen, Kecamatan Ceper, Klaten,

Salah satunya, Yoga, warga Kelurahan Gayam, Sukoharjo. Yoga bahkan nekat meminjam uang di bank senilai Rp100 juta untuk modal investasi di perusahaan pimpinan Alfarizi itu.

Yoga menyerahkan modal senilai Rp84 juta ke PT Krishna Alam Sejahtera dan masuk kategori B dengan gaji Rp2 juta per pekan. Sisa uang pinjaman bank itu digunakan untuk keperluan kantornya.

PT Krishna Alam Sejahtera di Kringinan, Kajen, Ceper, Klaten, merekrut mitra sekaligus investor dan pekerja pengeringan obat herbal. Masyarakat diiming-imingi tawaran menggiurkan berupa pekerjaan mudah dan pendapatan besar jika bergabung sebagai mitra.

Manajemen PT Krishna Alam Sejahtera kerap terjun lapangan guna mencari calon mitra kerja. Para calon mitra kerja diberi penjelasan ihwal persyaratan sebagai investor, pendapatan hingga prospek bisnis itu.

Guna meyakinkan para calon mitra kerja, mereka diundang mengikuti training di kantor perusahaan tersebut. Kala itu, Direktur PT Krishna Alam Sejahtera, Alfarizi, ikut meyakinkan para calon mitra kerja dengan iming-iming mendapatkan penghasilan besar jika berinvestasi di perusahaan itu.

“Saya dan beberapa mitra kerja terlebih dahulu mengikuti training. Saat itu, saya belum menyetor modal karena masih pikir-pikir. Saya dirayu agar segera menyetor modal. Yang memberikan materi dari direksi termasuk Alfarizi,” kata Yoga, saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (13/7/2019).

Yoga mengaku tergiur iming-iming yang ditawarkan PT Krishna Alam Sejahtera setelah mencari tahu informasi bisnis herbal itu dari kakaknya. Dia lantas mengikuti training di kantor PT Krishna Alam Sejahtera selama dua hari.

Keyakinan Yoga untuk menyetor modal kian kuat setelah mendapat informasi dari sejumlah mitra perusahaan lainnya. Akhirnya Yoga nekat meminjam uang di bank senilai Rp100 juta pada akhir April.

Yoga lantas menyetor modal Rp84 juta dan masuk ke B dengan penghasilan Rp2 juta setiap pekan. Sementara sisa uang pinjaman bank digunakan untuk membiayai keperluan kantornya.

Sekali dalam dua pekan, Yoga mengambil bahan jamu herbal seperti temu lawak, temu ireng, dan ginseng di kantor PT Krishna Alam Sejahtera. Bahan jamu herbal itu dikeringkan di rumah.

“Di Sukoharjo tidak ada kantor perwakilan atau cabang. Jumlah mitra kerja di Sukoharjo sekitar 80 orang. Hanya pengawas lapangan yang mengkoordinir para mitra kerja. Pengawas lapangan itu berdomisili di sekitar Mulur, Bendosari,” papar dia.

Yoga telah lima atau enam kali menerima gaji yang dibayar setiap pekan. Kecurigaan Yoga muncul saat gaji tak dibayarkan mulai akhir Juni dan awal Juli. Kecurigaan serupa dirasakan kakaknya karena tak menerima penghasilan setiap pekan.

Dia memperkirakan kerugian para mitra PT Krishna Alam Sejahtera lebih dari Rp14,5 miliar. Tak menutup kemungkinan jumlah mitra kerja PT Krishna Alam Sejahtera yang tertipu bisnis herbal itu bertambah.