Menulis Memoar, Cara Baru Kaum Urban Redakan Stres

Ngadiyo di toko buku sekaligus workshop Penerbit Diomedia di lantai II tempat indekosnya di Ngadirejo, Kartasura, Sukoharjo, Rabu (10/7 - 2019). (Ayu Prawitasari)
15 Juli 2019 11:00 WIB Ayu Prawitasari Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Penerbit indie Diomedia berinovasi melalui bisnis cetak memoar untuk menyuarakan kegelisahan kaum urban. Menulis, cara baru kaum urban mengatasi stres.

Scripta manent verba volant. Kata-kata segera lenyap, namun yang tertulis abadi. Peribahasa Latin itu menggambarkan bagaimana kekuatan sebuah tulisan atau naskah yang terus hidup melewati zaman. Pengarang boleh mati, namun pengaruh tulisannya tetap hidup melewati batas usianya.

Serupa magisnya adalah pesan Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

“Nyatanya memang semua orang bisa menulis dan banyak orang yang senang menulis,” ujar pemilik penerbit buku indie Diomedia, Ngadiyo, di ruang kerjanya, Rabu (10/7/2019) pagi menjelang siang. Ruang kerjanya adalah sebuah kamar di lantai II sebuah indekos di Ngadirejo, Kartasura, Sukoharjo.

Dio, sapaan akrabnya, menyewa tiga kamar di lantai II tempat indekos itu. Satu ruang difungsikan sebagai ruang kerja, satu ruang untuk istirahat, dan satu ruang lagi untuk gudang. Meski disebut gudang, namun buku-buku yang ditaruh di rak berkaca lumayan rapi sehingga memudahkan si empunya mencari sebuah judul.

Ruang di bagian depan ketiga kamar difungsikan untuk display buku. Dio menyebutnya toko buku. Pembelinya berasal dari jaringan Dio. Ada banyak mahasiswa yang ia kenal saat mengisi seminar di berbagai kampus, mengajar bahasa Inggris, para guru yang menggunakan jasa penerbitannya, jurnalis, rekan-rekan penulis, siswa SMA, dan masih banyak lagi lainnya.

Berdekatan dengan display buku ada tempat menggantung pakaian. Tiga t-shirt digantung sementara di bawahnya ada kardus yang berisi penuh t-shirt.

Tak terhitung berapa buku yang sudah diterbitkan Diomedia. Namun, dia menyebut penerbitnya sekarang berfokus pada penulisan memoar. Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memoar adalah catatan peristiwa masa lampau menyerupai autobiografi. Memoar ditulis dengan menekankan pendapat, kesan, dan tanggapan pencerita atas peristiwa yang dialami dan tentang tokoh yang berhubungan dengannya.

Setidaknya ada enam buku memoar yang sudah diterbitkan Diomedia seperti Memoar Menjadi Mahasiswa, Memoar Jajanan Masa Kecil, Memoar Guru Mengajar, Memoar Perjumpaan Istimewa, Memoar Ramadan dan Merantau, serta Memoar Patah Hati. Masing-masing memoar ditulis sejumlah orang yang mengikuti undangan menulis yang disebar Dio lewat media sosial seperti Facebook, Instagram, sampai Whatsapp.

Internet

Syarat mengikuti proyek menulis memoar tergolong mudah. Yang berminat tinggal mem-follow akun Instagram @dio_media, tulisannya tidak mengandung unsur SARA, panjang naskah maksimal 10 halaman, dan lainnya. Setiap penulis dapat membeli buku memoar yang sudah dicetak dengan potongan 30% sebagai ganti royalti dan mendapat diskon 30% saat membeli seluruh produk Diomedia.

Harga buku memoar beragam dari sekitar Rp70.000 hingga lebih dari Rp100.000. Jamak penulis membeli buku lebih dari satu eksemplar. Selain membeli buku, penulis juga mendapat tawaran membeli t-shirt dengan harga Rp84.000. Judul-judul buku memoar itu menjadi desain t-shirt yang ditawarkan Dio.

“Selain dijual sendiri kepada peserta, saya juga mendistribusikan buku-buku Diomedia lewat 127 reseller yang kebanyakan mahasiswa, freelance jadi. Ada yang sampai cetak dua kali lo bukunya. Sekali cetak 100 sampai 300 eksemplar,” kata Dio.

Sering diejek sebagai “Bapak Memoar”, Dio menanggapinya tertawa. “Justru itulah poin bisnis saya. Diomedia saat ini memang fokus pada penulisan memoar selain juga membuka kelas menulis online lewat grup Whatsapp untuk mengumpulkan naskah esai, cerpen, dan novel yang akan saya terbitkan. Tahu tidak, kalau saya lihat peserta dari tiap proyek ini ya orangnya itu lagi-itu lagi. Orang-orang yang sama ditambah orang-orang baru. Bisa jadi mereka ketagihan menulis. Mereka itu adalah para pekerja yang sudah mapan, seperti manajer, PNS, guru, atau pengusaha. Orang-orang sibuk yang punya banyak kenangan, kegelisahan, dan membutuhkan waktu rileks. Akhirnya menulis jadi semacam healing,” kata dia.

Mengutip salah satu hasil karya Erna Wardani di Memoar Patah Hati berjudul Luka yang Berakhir Suka, misalnya. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) ini menulis, “Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati. Dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Cara Tuhan menyelamatkanku adalah bukan dengan langsung memberikan jalan keluar yang nyaman, tetapi justru dengan menginginkan aku berdamai dengan diriku sendiri.”

Menulis sebagai proses kreatif, ungkap Ngadiyo, memberikan kelegaan yang luar biasa kepada si penulis. Di negara-negara maju, penulisan memoar sebagai upaya menenangkan diri banyak diterapkan.

Kelas Menulis Online

Bukan hanya membuat undangan menulis, Dio juga membuka banyak kelas menulis online seperti cerpen, esai, dan novel. Munculnya kelas online ini berawal dari kegagalannya membuka kelas offline.

Awalnya Dio membuka kelas offline di tempat indekosnya. Tempat yang tidak representatif membuat peserta sulit berkonsentrasi, belum lagi soal komplain dari tetangga akibat suara yang berisik, sampai lokasi parkir. Kerugian lain adalah dana untuk membeli snack dan mentraktir peserta di restoran. “Bangkrut saya.”

Era Web 2.0. yang meniscayakan komunikasi yang seolah spacial temporal, lewat grup Whatsapp hingga Youtube, membuatnya bisa menciptakan banyak kelas menulis dengan biaya minim. Penulis buku best seller terbitan Tiga Serangkai yang berjudul How To Handle Masturbation ini mengatakan Internet adalah teknologi membuat impiannya menjadi kenyataan.

Tanpa ruangan dan tak terbatas waktu, buku-bukunya bisa tersalurkan lewat market place (Tokopedia, Shopee, dan Bukalapak), media sosial (Facebook, Instagram), sampai di grup-grup Whatsapp menulis online yang ia buat. Dengan omzet Rp30 juta-Rp50 juta/bulan, impian Dio tahun depan adalah adalah punya rumah sendiri yang difungsikan sebagai toko, ruang produksi, hingga workshop menulis.

Mengutip data statistik dan hasil survei ekonomi kreatif Bekraf bersama BPS 2017, produk domestik bruto sektor ekonomi kreatif di Indonesia pada 2015 menyumbang Rp852,24 triliun sementara tahun sebelumnya senilai Rp784,82 triliun. Sektor penerbitan berkontribusi sebesar 6,29%.

Masih mengacu data yang sama, dari total penduduk bekerja pada 2015 sebanyak 114.819.199 orang, jumlah orang yang bekerja di sektor ekonomi kreatif sebanyak 15.959.590 orang. Jumlah pekerja kreatif ini meningkat dibandingkan 2014 sebanyak 15.167.573 orang.

Terkait penggunaan Internet, sebesar 82,01% terbiasa menggunakan surat elektronik atau email, 76,29% menggunakan Internet untuk mencari informasi, dan 64,62% menggunakannya untuk melayani pelanggan. Meski sudah melek teknologi, namun 71,35% pekerja kreatif tersebut tak melakukan penelitian dan pengembangan (litbang).