Jalur Hijau Sisi Utara Jl. Slamet Riyadi Solo Dihilangkan Untuk Lahan Parkir

Lalu lintas di Jl. Slamet RIyadi Solo. (Solopos/Dok)
15 Juli 2019 09:00 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menghilangkan jalur hijau di sisi utara Jl. Slamet Riyadi supaya bisa digunakan untuk parkir kendaraan roda empat.

Kendati begitu, penataan yang menyasar jalur lambat tersebut tak menghilangkan pohon. Lahan parkir akan berada di sela-sela pohon.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Solo, Endah Sitaresmi, mengatakan parkir kendaraan roda empat di sisi utara Jl. Slamet Riyadi selalu menjorok ke jalur cepat. Sementara parkir untuk kendaraan roda dua menggunakan jalur lambat karena minim lahan.

Jalur hijau berupa pulau di bagian itu akan dibuka. Sela-sela di antara pohon bisa digunakan untuk parkir kendaraan roda empat.

“Mobil bisa agak masuk ke jalur lambat, di antara pohon. Nah, roda dua parkir di antara pohon yang enggak bisa dimasuki roda empat, jadi jalur lambat bisa difungsikan optimal,” kata dia kepada Solopos.com, Minggu (14/7/2019).

Sita mengatakan proyek tersebut juga akan menggarap ducting atau saluran kabel bawah tanah. Sekretaris Dinas PUPR Kota Solo, Arif Nurhadi, menjelaskan pengerjaan ducting dan penataan jalur lambat tersebut menelan anggaran senilai Rp7,7 miliar.

Proyek dimulai dari depan Hotel Royal Herritage hingga Stasiun Purwosari. Dinas PUPR akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terkait pohon yang dinilai berakar lemah atau berpotensi tumbang.

“Ya, nanti kelihatan pohon yang kuat dan tidak, akan ada penjarangan. Tapi tidak semuanya dihabiskan. Itu yang tahu DLH. Kalau pohonnya langka, bisa dipindah ke tempat lain,” kata dia, Minggu.

Lokasi ducting, sambung Arif, di dekat pohon yang ada dengan memasang box culvert (beton bertulang pracetak berbentuk segi empat yang memiliki spigot dan socket) berukuran 60 sentimeter x 60 sentimeter.

Secara singkat, proyek ducting artinya memindahkan seluruh kabel fiber optik yang saat ini menggunakan sistem kabel udara dengan tumpuan tiang ke bawah tanah menggunakan satu saluran terpadu.

“Kondisi kabel udara saat ini tampak semrawut. Merentang dari satu tiang ke tiang yang lain. Kami koordinasi dengan Telkom dan PLN. Misalnya, ada berapa man hole [lubang manusia] dan lokasi di mana untuk pemeliharaan kabel di kemudian hari. Pekan ini sudah mulai pengerjaan, box culvert sudah diturunkan di antara pohon,” ungkap Arif.