Modal Usaha Dari Pemkab Karanganyar Habis, Eks Bakul Satai Gukguk Kelimpungan

Paimin, 58, menunjukkan usaha barunya kuliner rica menthok dan satai daging sapi di Desa Pendem, Mojogedang, Karanganyar, Minggu (14/7/2019). (Solopos - Wahyu Prakoso)
15 Juli 2019 14:15 WIB Wahyu Prakoso Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Eks pedagang kuliner berbahan daging anjing (satai gukguk/jamu) di Karanganyar kelimpungan setelah beralih usaha. Bantuan modal usaha dari Pemkab Karanganyar sudah habis sementara usaha baru mereka belum menghasilkan keuntungan.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Minggu (14/7/2019), sejumlah pedagang yang menerima bantuan modal alih usaha Rp5 juta dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar sudah membuka usaha baru, antara lain rica menthok, satai kambing, dan rica sapi.

Namun, para pedagang tersebut mengeluhkan jumlah sepi pembeli sedangkan modal yang mereka terima dari Pemkab sudah habis. Salah satu pedagang dari Kecamatan Tasikmadu, Pitut Tri Haryono, menjelaskan sudah alih usaha kuliner rica menthok sejak 13 hari lalu dengan modal pemberian dari Pemkab Karanganyar.

Namun, modal usaha sudah habis sementara ia belum mendapatkan pelanggan tetap. “Modal Rp5 juta sudah habis buat beli bahan baku. Bahkan saya sudah menggunakan tabungan pribadi Rp2 juta untuk usaha baru ini. Selera konsumen sangat berbeda,” katanya kepada Solopos.com di rumahnya.

Dia menjelaskan setelah Bupati Karanganyar membuat kebijakan beralih usaha, petugas dari Pemkab Karanganyar hanya sekali berkunjung untuk memberikan modal usaha. “Belum ada bimbingan atau pantauan dari petugas ke warung,” ujarnya.

Senada dengan Pitut, pedagang lain di Kecamatan Mojogedang, Paimin, 58, mengatakan kesulitan menjalankan usaha kuliner baru rica menthok dan rica sapi. Modal yang ia terima Rp5 juta sudah habis untuk membeli bahan baku.

“Mulai dari nol susah, kadang satu hari enggak laku. Kalau pun laku, omzet per hari belum pernah lebih dari Rp300.000. Pelanggan yang kecele saya paksa beli. Enggak semua mau karena dagingnya beda,” katanya saat ditemui di rumahnya.

Dia menjelaskan karakteristik pelanggan daging anjing berbeda dengan konsumen rica menthok atau sapi. Padahal, ia memasak dengan bumbu yang sama seperti olahan daging anjing dan menjual dengan harga yang sama yakni Rp25.000 per porsi.

“Mau gimana lagi. Saya sudah puluhan tahun berjualan olahan daging anjing. Saya sudah bisa beli rumah dan biaya sekolah anak pertama. Mungkin Tuhan kasih izin saya berjualan [daging anjing] sampai tahun ini saja. Kalau ada modal lagi saya ingin pesan gerobak untuk usaha mi ayam dan bakso karena harganya lebih murah daripada rica,” ungkapnya.

Sementara itu, Sutarni beralih ke usaha kuliner satai kambing dan rica menthok sejak dua pekan lalu. Ia mengaku kesulitan mendapatkan pelanggan baru dan stok bahan baku.

“Hari ini [Minggu] saya enggak jualan karena harga kambing sudah naik. Cari menthok di pasar juga susah,” katanya kepada Solopos.com.

Dia menjelaskan keuntungan berjualan kuliner daging menthok lebih sedikit daripada berjualan olahan daging anjing. Selama ia berjualan rica menthok dan satai kambing omzet per hari tidak lebih dari Rp300.000.

Sedangkan saat berjualan olahan daging anjing sedikitnya mendapatkan omzet Rp1 juta per hari.