Sebelum Meninggal, Bocah Boyolali Yang Makamnya Dibongkar Kerap Dimarahi Ibunya

Tempat tinggal F, 6, di Desa Tanduk, Kecamatan Ampel, Boyolali, Selasa (16/7/2019). (Solopos - Akhmad Ludiyanto)
17 Juli 2019 09:30 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Kematian bocah berusia 6 tahun asal Desa Tanduk, Kecamatan Ampel, Boyolali, F, menyisakan misteri. Polisi menduga bocah laki-laki yang meninggal pada Kamis (11/7/2019) lalu itu menjadi korban penganiayaan.

Itulah alasannya polisi membongkar makam bocah itu di Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Semarang, Selasa (16/7/2019). Polisi ingin membuktikan rumor yang beredar di masyarakat sekitar tempat tinggal F bahwa ada bekas luka lebam di tubuh anak itu saat meninggal.

Pembongkaran makam diikuti autopsi jenazah F membuktikan kabar itu benar. Polisi mendapati bekas kekerasan atau penganiayaan pada putra kedua pasangan SW, 30, dan IW, 45, ini.

Namun polisi masih menyelidiki siapa yang menganiaya F. Orang tuanya sudah dimintai keterangan di Mapolres Boyolali.

Sementara itu, saat Solopos.com mendatangi tempat tinggal F di Tanduk, Selasa siang, rumah tua berbahan kayu tersebut kosong tak berpenghuni. Semua pintu dan jendelanya tertutup rapat.

Sejumlah tetangga mengungkapkan sepeninggal F rumah itu memang kosong. Ibu F, SW, dan putri sulungnya kembali ke rumah orang tua SW di Cukilan, Semarang, sedangkan IW, suami SW, juga tinggal di rumah orang tuanya di Tanduk, tak jauh dari rumah yang ia tinggali bersama SW.

Para tetangga mengungkapkan sebelum tinggal bersama IW, SW adalah janda dengan dua anak. Suaminya meninggal sekitar setahun lalu. Setelahnya, SW dinikahi siri oleh IW dan tinggal di rumah saudara IW di Tanduk.

Selama tinggal di Tanduk, SW tergolong kurang bergaul dengan para tetangga. Sehari-hari dia tinggal di dalam rumah bersama anak-anaknya, sedangkan IW bekerja di luar sebagai buruh serabutan.

Pwt, 45, salah satu tetangga SW, mengungkapkan SW sangat jarang keluar rumah. Anak-anaknya pun dibatasi bermain di luar. “Kebutuhan sehari-hari keluarga itu juga sudah dibelanjakan IW. Dia [SW] di rumah saja,” ujarnya saat ditemui Solopos.com, Selasa.

SW juga dinilai kurang ramah terhadap tetangga. Sesekali keluar pun tidak bertegur sapa. Selain itu, SW sering terdengar memarahi anak-anaknya. “Pernah dengar sih beberapa kali dia marah-marah sama anaknya,” ujar Pwt.

Saat F meninggal dunia pada Kamis lalu, Pwt sedang berada di Yogyakarta sehingga tidak tahu pasti penyebab meninggalnya F yang beberapa kali bermain di rumah Pwt.

Sementara itu, SB, 60, tetangga lainnya yang kali pertama didatangi SW saat F meninggal mengungkapkan SW tidak mengatakan dengan jelas penyebab anaknya meninggal.

“Dia ke sini dengan muka seperti mau menangis, katanya mau pinjam telepon untuk menghubungi suaminya yang sedang tidak ada di rumah. Dia cuma bilang ada hal penting. Tapi saat itu telepon tidak tersambung,” ujarnya.

SB kemudian menghubungi tetangga lainnya untuk melihat apa yang terjadi di dalam rumah SW. “Saya tidak berani ke sana sendirian. Saya ajak tetangga, lalu pas kami masuk, saya lihat anak itu di lantai berkasur dan badannya sudah kaku. Mukanya pucat agak kehijauan. SW bilang anaknya [meninggal karena] terjatuh,” ujarnya.

Tetangga pun mulai berdatangan untuk mengurus jenazah F untuk segera dimakamkan di Cukilan. Sesaat sebelum jenazah diberangkatkan, IW pulang dan ikut mengantar kepergian F.

Mantan Kepala Desa (Kades) Tanduk, M. Hari Nugroho, yang rumahnya tak jauh dari rumah IW enggan menduga-duga penyebab kematian F. Hari hanya mengatakan meskipun cukup mengenal IW, dia tidak terlalu mengenal SW.

“Orangnya [SW] memang jarang terlihat bertetangga,” ujar Hari yang terpilih kembali sebagai kades pada pilkades lalu.