Gas Melon Langka, Pertamina Gelar Operasi Pasar di Eromoko Wonogiri

Petugas menyiapkan elpiji 3 kg saat operasi pasar Pertamina di Lapangan Ngadirejo, Desa Ngadirejo, Eromoko, Wonogiri, Rabu (17/7/2019). (Solopos - Rudi Hartono)
17 Juli 2019 19:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Pertamina menggelar operasi pasar elpiji 3 kg, Rabu (17/7/2019). Operasi pasar dilakukan menyusul kelangkaan elpiji bersubsidi itu di Wonogiri selama beberapa pekan terakhir.

Akibat kelangkaan tersebut warga Wonogiri kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg tersebut. Jika pun ada, warga harus membelinya dengan harga tinggi, yakni mencapai Rp20.000/tabung. Bahkan, ada pengecer yang menjual seharga Rp30.000/tabung.

Melihat kondisi tersebut Pertamina menambah kuota fakultatif sebanyak 40.320 tabung selama 15-20 Juli. Selain itu Pertamina menggelar operasi pasar di tiga lokasi sekaligus dengan menyediakan 560 tabung/lokasi, Rabu (17/7/2019).

Salah satu lokasi operasi pasar elpiji 3 kg itu di Lapangan Ngadirejo, Eromoko, Wonogiri. Warga Ngadirejo, Desa Ngadirejo, Eromoko, Atik, 33, saat ditemui Solopos.com di dusun itu, Rabu, mengaku sulit mendapatkan gas melon meski rumahnya dekat dengan pangkalan.

Gas melon di pangkalan bersangkutan tak selalu tersedia. Akibatnya Atik harus mencari gas melon di tingkat pengecer ke sejumlah dusun. Atik membeli berapa pun harga yang dijual pengecer asal bisa mendapatkan gas melon. Biasanya dia membeli seharga Rp20.000/tabung.

“Saat di pangkalan ada stok, barang dijual seharga Rp19.000/tabung. Itu kan termasuk tinggi. Kalau pemilik pangkalan dikomplain malah jawabannya judes. Adanya harga segitu, kalau enggak mau ya sudah, begitu bilangnya. Karena gas sudah menjadi kebutuhan pokok mau enggak mau ya saya membeli,” kata Atik.

Sesuai aturan, mestinya pangkalan menjual sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET), yakni Rp15.500/tabung. Warga Sumberejo, Wuryantoro, Riska, 24, juga mengaku kebingungan bagaimana caranya mendapatkan gas melon.

Banyak warga yang menanyakan kepadanya selaku pengecer ihwal ketersediaan gas melon dan kapan gas melon ada lagi. Namun, Riska pun tak bisa menjawabnya karena tak tahu menahu soal itu.

“Biasanya saya dapat jatah dari pangkalan 10 tabung/pekan. Tapi sejak beberapa pekan ini hanya dijatah tiga tabung/pekan. Kalau lagi ada barang biasanya saya menjual Rp19.000-Rp20.000/tabung. Saya ambil dari pangkalan Rp17.000/tabung. Ada juga pengecer yang jual sampai Rp30.000/tabung. Kasihan masyarakat,” ulas Riska.

Atik dan Riska bersyukur Pertamina akhirnya menggelar operasi pasar gas melon di Ngadirejo, Eromoko seharga Rp15.500/tabung. Mereka berharap Pertamina menggelar operasi sejenis di Eromoko sepekan sekali.

Sales Eksekutif Elpiji Soloraya Pertamina Marketing Operation Region (MOR) IV Jateng/DIY, Adeka Sangtraga Hitapriya, saat ditemui wartawan di sela-sela memantau operasi pasar di Wonogiri, mengatakan warga sulit mendapatkan gas melon karena kebutuhan meningkat, terutama di wilayah selatan yang terdampak kemarau.

Banyak warga menggunakan elpiji 3 kg sebagai bahan bakar untuk mengoperasikan mesin pompa untuk menyedot air. Selain itu banyak pula warga yang menggelar hajatan.

Di sisi lain usaha mikro kecil menengah (UMKM) tumbuh sehingga meningkatkan konsumsi gas melon. “Karena itu Pertamina menambah kuota fakultatif. Di luar itu kami juga menggelar operasi pasar di Selogiri, Wonokarto [di Kecamatan Wonogiri] dan Eromoko. Masing-masing lokasi kami siapkan 560 tabung,” kata Deka.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (KUKM Perindag) Wonogiri, Wahyu Widayati, menginformasikan peningkatan kebutuhan gas melon terjadi di seluruh wilayah di Wonogiri. Dia bersyukur Pertamina memberi respons yang cepat dengan menambah kuota fakultatif dan menggelar operasi pasar.