Penipu Catut Nama Wartawan Juga Beraksi di Solo, Politikus dan Legislator Jadi Sasaran 

Ilustrasi penipuan (Solopos/Whisnu Paksa)
18 Juli 2019 23:00 WIB Kurniawan Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Penipuan dengan mencatut nama wartawan seperti di Wonogiri juga terjadi di Solo. Penipu mengincar para politikus dan anggota DPRD Kota Solo.

Modusnya pun hampir sama, yakni mengirim pesan singkat (short message services) minta bantuan sejumlah uang untuk membantu rekan wartawan yang sakit dan dirawat di rumah sakit wilayah Semarang. 

Jika pesan SMS tersebut tidak ditanggapi oleh calon korban, pelaku kemudian mengirim SMS dengan kata-kata kasar berisi sumpah serapah. 

Salah satu politikus yang mendapat SMS dari penipu itu adalah Ketua DPD PAN Solo, Achmad Sapari. Sapari mendapat pesan singkat berisi informasi adanya seorang awak media yang sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit di Semarang.

Dalam pesan itu Sapari diminta mengirim uang melalui rekening bank guna biaya berobat awak media tersebut. Tapi pesan tersebut hanya dibaca dan tak ditanggapi Sapari. Akhirnya pelaku menelepon Sapari hingga beberapa kali.

Usaha itu pun tidak membuahkan hasil. Sapari tetap tidak merespons pelaku. Sikap dia rupanya membuat pelaku geram dan mengirim pesan lanjutan. Pesan lanjutan itu berisi sumpah serapah kepada Sapari dengan gaya pisuhan ala Jawa Timur (Jatim).

“Saya sudah tahu itu modus tipu-tipu saja makanya tidak saya tanggapi. Termasuk saat dia menelepon saya tiga kali tidak saya terima. Akhirnya ya dia mengirim SMS lanjutan yang berisi pisuhan-pisuhan ke saya,” tutur dia, Kamis (18/7/2019).

Sapari menambahkan ternyata ada dua legislator lain di DPRD Solo yang mendapat SMS serupa. Bahkan salah seorang legislator perempuan itu terlanjur mengirim uang Rp250.000 ke nomor rekening bank yang disodorkan pelaku.

Sedangkan seorang legislator lain lolos dari percobaan penipuan lantaran sudah merasa SMS tersebut adalah upaya penipuan. Sapari mengaku heran pelaku bisa tahu nomor telepon beberapa legislator DPRD Solo dan digunakan sebagai sasaran penipuan. 

Dia berharap aparat penegak hukum bisa mengusut tindak pidana itu dan menangkap para pelakunya. “Sebenarnya modus penipuan seperti ini sudah pernah terjadi beberapa tahun lalu. Saat saya masih di Sekretariat DPRD Karanganyar pun pernah dikirimi SMS yang sama. Saat itu pun saya tidak respons karena tahu penipuan,” urai dia.

Sapari menduga pelaku adalah “wartawan bodrek” ditilik dari kapasitas pelaku mendapatkan nomor telepon sejumlah legislator. “Mungkin semacam [wartawan] bodrek. Wong isa nganti ngerti nomor-nomor telepon anggota DPRD,” ujar dia.