7 Warga Sragen Meninggal Dunia Karena AIDS Selama Juni

Ilustrasi HIV - AIDS. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
18 Juli 2019 17:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Delapan warga Sragen meninggal dunia karena penyakit acquired immuno deficiency syndrome (AIDS) pada semester pertama 2019. Dari jumlah tersebut, tujuh orang di antaranya meninggal pada Juni.

Sedangkan satu orang lainnya meninggal dunia pada Maret. Koordinator Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sragen, Wahyudi, mengatakan biasanya temuan kasus warga meninggal dunia karena AIDS fluktuatif setiap bulannya.

"Pada Januari-Mei hanya ada satu warga yang meninggal dunia karena AIDS, tapi pada Juni ada tujuh warga yang meninggal dunia karena penyakit yang sama,” terang Wahyudi saat ditemui Solopos.com di kantornya, Kamis (18/7/2019).

Jumlah warga yang meninggal dunia karena AIDS pada semester pertama 2019 tersebut nyaris menyamai jumlah kasus yang terjadi sepanjang 2018. Pada tahun lalu, 10 warga meninggal dunia karena AIDS.

Wahyudi menegaskan banyaknya warga yang meninggal dunia karena AIDS tersebut tidak menjadi indikator ketidakberhasilan program penanggulangan Human Immunodeficiency Virus (HIV)/AIDS.

“Masyarakat jangan salah memahami persoalan HIV/AIDS. Kasus HIV/AIDS itu ibarat fenomena gunung es. Artinya, jumlah kasus yang tidak terlihat di permukaan bisa jadi lebih banyak daripada yang terlihat atau terungkap. Kalau ingin nol kasus ya mudah saja caranya. Tidak usah menggulirkan dana sehingga kegiatan penanggulangan HIV/AIDS ini tidak terlaksana. Dengan begitu kan tidak ada temuan kasus sama sekali,” seloroh Wahyudi.

Wahyudi menjelaskan delapan warga yang meninggal dunia karena AIDS tersebut berusia produktif antara 35-45 tahun. Sebelum meninggal dunia, kondisi kesehatan mereka sudah dalam pemantauan kelompok dukungan sebaya (KDS) di bawah naungan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen.

“Satu dari mereka itu diketahui merupakan warga Kecamatan Karangmalang. Dia terjangkit HIV/AIDS dari keluarga. Sayang, dia mendapat perlakuan diskriminatif oleh para tetangga. Hingga akhirnya dia memilih menjadi gelandangan karena merasa tidak diterima lagi oleh warga sekitar. Lalu dia ditemukan meninggal dunia karena kekebalan tubuhnya menurun drastis,” jelas Wahyudi.

Pada semester pertama 2019 ini, ada 92 temuan baru kasus HIV dan 20 kasus AIDS. Dalam dua tahun terakhir, jumlah temuan kasus AIDS lebih sedikit daripada HIV.

Menurutnya, hal itu menjadi pertanda baik bagi program penanggulangan HIV/AIDS. Pada 2015 dan 2017 jumlah kasus AIDS lebih banyak daripada HIV dengan perbandingan 120:53 dan 106:81. Sementara pada 2018 dan semester pertama 2019 perbandinganya temuan kasus AIDS dan HIV adalah 65:162 dan 20:92.

“Umur seseorang tidak bisa diprediksi. Tapi, pengidap HIV punya peluang bertahan hidup lebih panjang daripada pengidap AIDS. Prinsip kami itu, temukan, obati, dan pertahankan. Caranya mempertahankan ya dengan memberi pendampingan. Memberi dorongan dan motivasi. Mengupayakan dia tetap rutin mengonsumsi obat, vitamin dan membiasakan pola hidup sehat supaya kekebalan tubuhnya tetap terjaga,” papar Wahyudi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, dr. Hargiyanto, menyebut kasus HIV/AIDS ibarat fenomena gunung es. Meningkatnya kasus temuan HIV/AIDS menandakan DKK Sragen aktif bekerja dalam rangka menanggulangi penyakit mematikan itu.

Selama ini DKK Sragen sudah meningkatkan kegiatan sosialisasi dan penyuluhan dalam rangka menanggulangi HIV/AIDS. Untuk mengantisipasi penularan virus kepada bayi, semua ibu hamil di Sragen juga sudah diperiksa.

Tidak hanya ibu hamil, semua pasien penderita tuberculosis juga diperiksa untuk memastikan tidak terjangkit HIV/AIDS.