Cinta Segitiga Berujung Pengeroyokan, Pemuda Sragen Babak Belur

Iqfan (kedua dari kanan) dan Ali, dua tersangka pengeroyok Pastoni diperiksa polisi di Mapolres Sragen, Kamis (18/7/2019). (Solopos - Moh. Khodiq Duhri)
18 Juli 2019 21:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Pemuda asal Dukuh Sambirembyung, Desa Gemantar, Kecamatan Mondokan, Sragen, Pastoni, 27, babak belur setelah dikeroyok dua pemuda yang tidak dikenalnya, Senin (15/7/2019) dini hari.

Aksi pengeroyokan terhadap pemilik usaha ternak ayam tersebut dilatarbelangi cinta segitiga. Kedua pelaku yakni Mohammad Iqfan, 18, dan Ali Musthofa, 19, warga Desa Bonagung, Tanon, Sragen, sudah diringkus aparat Satreskrim Polres Sragen di kawasan Tanon sesaat setelah kejadian.

Aksi itu bermula ketika Pastoni bersama temannya, Roni Wijaya, 24, tengah menjaga kandang ayam miliknya di Dukuh Jatirejo, Desa Trombol, Kecamatan Mondokan, Sragen. Sekitar pukul 02.30 WIB, tiba-tiba ia didatangi Iqfan dan Ali Musthofa.

Tanpa ampun, keduanya langsung menyeret tubuh Pastoni ke luar kandang. Mereka pun langsung melancarkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi ke arah wajah dan perut Pastoni.

Saat itu, Iqfan mengaku sebagai pacar dari RNI, 16, gadis yang belakangan menjadi teman kencan Pastoni. Akibat pengeroyokan itu, Pastoni mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya.

Bersama ayahnya, Pastoni melaporkan kasus pengeroyokan itu ke Polsek Mondokan. “Pertama saya dengar cerita ini dari teman. Setelah itu saya tanya ke pacar saya dari hati ke hati. Pacar saya mengaku merasa diguna-guna oleh dia [Pastoni] sehingga mau berkencan hingga beberapa kali dengannya. Itu yang membuat saya kesal. Sebagai pacar, saya merasa punya tanggung jawab untuk menjaganya,” ucap Iqfan dalam gelar perkara di Mapolres Sragen, Kamis (18/7/2019).

Kapolres Sragen, AKBP Yimmy Kurniawan, mengatakan pengakuan Iqfan yang menyebut dirinya pacar RNI memudahkan polisi mengungkap kasus tersebut. Kedua tersangka dijerat Pasal 170 KUHP tentang melakukan kekerasan di muka umum dengan ancaman pidana maksimal tujuh tahun penjara.

“Beberapa barang bukti yang disita polisi antara lain pakaian milik korban, pakaian milik pelaku dan sepeda motor Honda Beat warna hitam yang dijadikan sebagai sarana dalam beraksi,” jelasnya.