Disdag Solo Tawarkan 16 Los Selter Sriwedari, Berminat?

ilustrasi selter PKL (Solopos/M. Ferri Setiawan)
19 Juli 2019 03:17 WIB Candra Mantovani Solo Share :

Solopos.com, SOLO - Dinas Perdagangan (Disdag) Solo menawarkan sejumlah 16 los selter Sriwedari untuk digunakan pedagang kaki lima (PKL) Jl. Transito, Laweyan yang terdampak penataan.

Tawaran tersebut untuk memberikan solusi para pedagang yang belum mendapatkan tempat ganti berjualan.
Kabid PKL Disdag Solo, Didik Anggono, mengatakan pihaknya memberikan tenggat waktu kepada pedagang selama satu pekan untuk menerima tawaran tersebut. Menurutnya, dari 16 los yang ditawarkan sudah ada 10 los yang diambil oleh PKL Transito.

“Ada 11 pedagang yang meminta untuk berjualan di Sriwedari, tetapi kami menyediakan 16 los. Kami tetap membuka kesempatan bagi pedagang Transito yang ingin berjualan di selter Sriwedari,” jelasnya ketika ditemui Solopos.com di selter Sriwedari Rabu (17/7/2019).

Meskipun begitu, pihaknya tetap melakukan pengawasan agar tawaran tersebut tidak disalahgunakan. Dalam jangka waktu tersebut, para PKL belum bisa mendapatkan surat izin penempatan (SIP) selter. Sehingga, hanya pedagang yang benar-benar berniat berjualan yang akan diberikan surat izin tersebut.

“Kami akan tetap melakukan pengawasan agar selter yang kami bagikan tidak disalahgunakan seperti disewakan atau dijual. Pengawasan akan kami lakukan dalam jangka waktu enam bulan. Surat izin akan kami terbitkan setelah masa pengawasan. Kalau mereka benar-benar niat dan tetap bertahan konsisten berjualan, surat izin baru kami serahkan kepada mereka,” imbuh dia.

PKL Jl. Transito terdampak, Supatmi, 42, mengatakan sebelum mengambil tawaran berjualan di selter Sriwedari, dia diberikan lima opsi lokasi untuk berjualan. Namun, dia memutuskan untuk mengambil tawaran berjualan di Sriwedari lantaran potensi kedepan yang lebih menguntungkan. Meskipun begitu, batas waktu untuk segera menggunakan selter tersebut menjadi kendala baginya.

“Saya sebelumnya usaha toko kelontong dan laundry. Nah, di Sriwedari ini kan harus kuliner. Jadi saya harus banting setir. Kendalanya itu, harus persiapan banyak sedangkan waktunya hanya sebentar. Kami tadi sudah menyampaikan keluhan kami. Kalau alasannya memilih Sriwedari karena nanti kalau masjidnya sudah jadi kemungkinan akan ramai tempatnya,” jelasnya.

Pedagang lainnya, Emi Hartati, mengatakan memilih untuk berjualan di selter Sriwedari lantaran dianggap lebih berpotensi. Dia merasa senang lantaran diberikan solusi berdagang meskipun terdampak penataan PKL di Jl. Transito. Namun, dia juga menyampaikan keluhan terkait sebentarnya waktu persiapan yang ditentukan oleh Disdag Solo untuk menempati selter tersebut.

“Saya memilih di Sriwedari. Karena ada banyak pertimbangan. Tapi saya senang sudah diberikan solusi. Dulu saya usaha menerima pesanan roti. Usaha rumahan. Tapi saya sudah minta solusi soal waktu persiapan. Semoga usahanya nanti lancar setelah pindah,” bebernya.