Kisah Patung Tangan Wonogiri Jadi Simbol Kebersamaan Warga

Pengendara melintas di jalan dekat patung tangan di Dusun Karang Tengah RT 002/RW 008, Jaten, Selogiri, Wonogiri, Jumat (31/5 - 2019). (Solopos/Rudi Hartono)
19 Juli 2019 11:10 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Patung berwujud tangan pergelangan tangan hingga jari menghiasi sudut proliman atau simpang lima Dusun Karang Tengah RT 002/RW 008, Desa Jaten, Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Patung tangan kanan setinggi 2 meter-2,5 meter itu berada di tengah perkampungan. Selama ini patung tersebut dikenal sebagai tenger atau penanda orang dalam mencari alamat. Warga memaknai patung tangan Wonogiri itu sebagai simbol orang berdoa atau meminta sesuatu.

Namun, ternyata pemaknaan itu keliru. Salah satu warga setempat yang turut andil dalam pendirian patung tangan, Cahyo Wibowo, 46, saat ditemui solopos.com di rumahnya, Jumat (31/5/2019), menceritakan patung itu bangunan baru yang didirikan lima tahun lalu sebagai pengganti patung lama.

Patung pertama yang berukuran lebih kecil dibangun pada 1992 oleh karang taruna Dusun Karangtengah. Lelaki yang akrab disapa Bowo itu merupakan salah satu anggota karang taruna saat itu. Menurut dia pendirian patung kali pertama digagas rekannya yang bernama Saroyo.

Waktu itu Saroyo kepada para anggota karang taruna menyampaikan ide untuk membangun patung sebagai simbol bahwa pemuda di Karang Tengah kuat menghadapi segala macam tantangan hidup, tak mudah putus asa, kreatif, dan selalu bersatu.

Menurut dia, wujud yang dapat mewakili filosofi itu adalah tangan yang mencengkeram. Para anggota karang taruna pun setuju. Mereka lalu membangun patung dengan wujud tangan kanan mencengkeram.

“Patung yang pertama berdiri di proliman Karang Tengah dalam waktu lama, hingga menjadi ciri khas dusun. Orang luar Jaten pun sudah banyak yang tahu. Sebenarnya patungnya tampak kurang proporsional, ukuran jari-jarinya tak seimbang dan posisinya seperti tak mencengkeram,” kata Bowo.

Lima tahun lalu para mantan anggota karang taruna yang semuanya kini sudah berkeluarga sepakat menggantinya dengan patung baru dengan ukuran lebih besar. Mereka memesan patung kepada pematung di Jogja.

Namun, patung tangan yang dihasilkan tak sesuai harapan. Warga memesan patung tangan mencengkeram, tetapi yang dihasilkan patung tangan yang posisinya seolah menengadah.

“Sebab itu lah banyak orang memaknainya sebagai simbol meminta sesuatu. Itu salah, yang benar simbol kekuatan, kebersamaan. Filosofi itu sampai sekarang kami pegang. Meski sekarang banyak yang merantau, kami tetap menjaga hubungan kekeluargaan. Kami akan memodifikasi patung agar urat-urat di jarinya lebih kelihatan dan posisi jarinya tampak mencengkeram,” imbuh Bowo.