Japoh, Desa Pelaku UMKM Sragen

Warga melintas di depan Lapangan Desa Japoh di Jalan Tangen-Jenar, tepatnya di Dukuh Temurasa, Desa Japoh, Kecamatan Jenar, Sragen, Rabu (17/7 - 2019). (Tri Rahayu)
20 Juli 2019 06:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Desa Japoh Kecamatan Jenar Sragen bisa disebut desa UMKM. Begitu banyak pelaku UMKM sehingga Pemdes berencana membuka rumah produksi dan pemasaran UMKM.

Tulisan “Lapangan Desa Japoh” terlihat dengan warna oranye di pinggir Jalan Tangen-Jenar. Di sudut barat laut lapangan itu terdapat baliho permanen berukuran besar yang berisi perincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) 2019 secara detail.

Lapangan tersebut merupakan ikon baru Pemerintah Desa Japoh. Tulisan itu dibuat dengan dana corporate social responsibility (CSR). Lapangan hanya berjarak 200 meter dari Balai Desa Japoh.

Di antara lapangan dan balai desa terdapat pusat oleh-oleh Sragen yang menawarkan produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Produk UMKM menjadi andalan bagi Japoh untuk pengembangan desa ke depan, bahkan sebagai produk unggulan desa.

Sekretaris Desa (Sekdes) Japoh Sugiyanto saat berbincang dengan Solopos.com di Balai Desa Japoh, Jenar, Sragen, Rabu (17/7), mencatat ada banyak pelaku UMKM, seperti di Karangmojo ada UMKM susu kedelai; UMKM keripik di Dukuh Japoh dan Pakel; UMKM telur asin juga ada di Japoh; geplak jahe menjadi produk andalan PKK di Dukuh Temurasa; serta UMKM kue-kue ada di Geneng.

“Dari sekian banyak pelaku UMKM, yang pemasarannya sampai mana-mana ya UMKM keripik. UMKM itu sering mewakili desa untuk pameran produk UMKM di sejumlah daerah. Produksinya cukup banyak, seperti keripik pisang, singkong, sukun, bayem, dan pare. Kami memang ingin mengembangkan UMKM dengan mengoptimalkan peran BUMDesa [Badan Usaha Milik Desa]. Rencana ke depan, BUMDesa membuat semacam rumah produksi dan rumah pemasaran. Barang-barang dagangannya berasal dari para pelaku UMKM se-Desa Japoh,” ujar Sugiyanto yang diamini Pejabat Kepala Desa Japoh Muh. Marwan.

BUMDesa milik Pemdes Japoh bernama Japoh Sejahtera yang berdiri pada 2017. BUMDesa mulai bergerak secara optimal mulai 2018, yakni membuka warung jual beli pupuk dan obat-obatan pertanian. Dia mengatakan BUMDesa akan meluaskan bisnisnya dengan pelayanan program keluarga harapan (PKH) dan rumah produksi UMKM.

“Lokasi rumah produksi UMKM sudah dipikirkan, yakni di Japoh dan Karangmojo. Pembangunan rumah produksi juga sudah masuk dalam usulan Musrenbangdesa [Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa], tetapi belum terealisasi sampai sekarang,” kata dia.

BUMDesa Japoh Sejahtera sudah mendapat modal awal pada 2018 yang kemudian ditambah Rp20 juta pada APBDesa 2019 dari dana bantuan Gubernur Jawa Tengah. Selain pengembangan UMKM, Sugiyanto juga menyampaikan potensi lain yang belum digarap yakni area pertanian di Japoh yang luasnya 317,9 hektare dari total luas wilayah Japoh 408,5 hektare.

Japoh hanya dihuni 2.668 jiwa atau 1.004 keluarga yang menyebar di 17 RT, 5 RW, dan 3 kebayanan. “Dari 1.004 keluarga itu, sebanyak 512 keluarga di antaranya bermatapencaharian sebagai petani. Ini juga menjadi potensi bagi desa, tetapi mereka merupakan petani heterogen, yakni petani tebu dan palawija,” jelas dia.