Dari Desa Susah Sinyal, Kini Ngambarsari Wonogiri Punya 60 Pelanggan Internet

ilustrasi jaringan internet e/office. (illustratiction.fr)
20 Juli 2019 02:30 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Ngambarsari menjadi salah satu desa di Kecamatan Karangtengah, Wonogiri, yang susah untuk mendapat sinyal telekomunikasi karena faktor geografis.

Jangankan sinyal Internet, untuk telepon atau kirim pesan lewat ponsel saja susah. Tapi itu dulu, beberapa tahun lalu. Kini, Ngambarsari sudah berkembang menjadi salah desa dengan akses Internet.

Bahkan lewat Program Desa Melek Internet dan Teknologi (Demit) yang dikelola Badan Usaha Milik (BUM) Desa bernama Sari Barokah, Ngambarsari, sekarang memiliki pelanggan Internet dan memperoleh pendapatan dari usaha yangNgambarsari menjadi salah satu desa di Kecamatan Karangtengah, Wonogiri, yang susah untuk mendapat sinyal telekomunikasi karena faktor geografis. berjalan sejak 2018 tersebut.

Hingga Juli 2019 ini, BUM Desa Sari Barokah Ngambarsari sebagai pengelola program memiliki lebih kurang 60 pelanggan Internet atau naik 100 persen dibanding akhir tahun lalu.

Sekretaris Desa (Sekdes) Ngambarsari, Nuryono, kepada Solopos.com, Jumat (19/7/2019), menyampaikan pelanggan Internet BUM desanya tersebar di enam desa di Kecamatan Karangtengah dan Batuwarno.

Pelanggan di Karangtengah tersebar di Jeblogan, Purwoharjo, Karangtengah, Temboro, dan Ngambarsari. Sedangkan di Batuwarno, pelanggannya dari warga Desa Tegiri.

Pengelola dapat melayani pelanggan lebih banyak dan cakupannya lebih luas setelah mengembangkan jaringan. Akhir tahun lalu, BUM desa tersebut hanya memiliki 30 pelanggan di lima desa wilayah Karangtengah.

“Rata-rata mereka berlangganen paket Internet berkecepatan 1 mbps [megabyte per second] dengan biaya Rp100.000/bulan. Ada juga yang berlangganan Internet berkecepatan 2 mbps dengan biaya Rp200.000/bulan. Bahkan, ada yang berlangganan sampai kecepatan 5 mbps [biaya Rp500.000/bulan] dan sekarang minta kecepatan dinaikkan lagi,” kata Nuryono saat dihubungi Solopos.com.

Dia melanjutkan warga menyambut baik Program Demit. Mereka merasa terbantu. Sebelum ada Program Demit, warga hanya bisa menggunakan internet dari HP.

Warga harus menyambungkan via hotspot (tethering) dari HP jika ingin berinternet menggunakan perangkat lain, seperti laptop atau personal computer (PC). Saat ini BUM desa dapat meraup pendapatan lebih kurang Rp6,5 juta/bulan.

Di sisi lain BUM desa hanya mengeluarkan biaya langganan Indihome lebih kurang Rp2,7 juta/bulan. Hanya, pengelola masih memiliki beban pikiran lantaran program tersebut sampai sekarang belum berizin.

Pemerintah Desa (Pemdes) Ngambarsari bersama pengelola BUM desa sudah berupaya memproses izin, tetapi belum membuahkan hasil. “Kami sudah berkonsultasi dengan Bappeda [Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Penelitan dan Pengembangan atau Bappeda Litbang]. Semoga ke depan bisa mendapatkan izin. Kami inginnya program ini berjalan secara resmi. Kalau tidak kan kami malah bingung [satu sisi dibutuhkan warga, di sisi lain program belum berizin],” imbuh Nuryono.

BUM Desa Sari Barokah Ngambarsari mengelola Program Demit sejak awal 2018. Ide membuat program itu muncul dari kondisi yang selama ini dihadapi warga.

Sejak dahulu warga susah mengakses Internet. Awalnya, BUM Desa mengelola Internet yang bersumber dari Internet milik desa. Namun, kecepatan akses Internet saat itu tak bisa maksimal.

Kemudian BUM desa berlangganan Internet Indihome dengan kapasitas kecepatan 20 mbps. Namun, saat itu memancarkan sinyal Internet tak bisa langsung ke Ngambarsari.

BUM desa harus membangun pemancar setinggi 4 meter di salah satu lahan warga di Batuwarno. Selain itu juga membangun penangkap dan pemancar sinyal setinggi 6 meter di Bukit Selo Belah.

Seiring berjalannya waktu pengelola membangun penangkap dan pemancar sinyal lagi setinggi 12 meter di area kantor desa. Setelah itu pengelola membangun infrastruktur serupa setinggi 25 meter di Bukit Sumbing.

Modal untuk pengadaan insfrastruktur pendukung dan sambungan Internet Indihome senilai Rp20 juta yang diambil dari dana penyertaan modal 2018 senilai Rp50 juta. Pengelola menyiapkan empat paket Internet unlimited bagi pelanggan, yakni Rp100.000/bulan untuk Internet berkecepatan 1 mbps, Rp200.000/bulan 2 mbps, Rp300.000/bulan 3 mbps, dan seterusnya.

Biaya pemasangan lebih kurang Rp1 juta tergantung kondisi geografis. Biaya itu untuk membeli alat penangkap sinyal, seperti alat berbentuk parabola kecil, repeater, dan kabel.