Kemarau Bikin 879,5 Hektare Sawah di Klaten Puso, Ketahanan Pangan Terganggu?

Buruh tani memanen padi di sawah Kamoyo di Dukuh Kepoh, Desa Bowan, Kecamatan Delanggu, Klaten, Minggu (26/5/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
23 Juli 2019 01:30 WIB Ponco Suseno Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Kemarau dengan cuaca yang kering berdampak cukup besar pada sektor pertanian di Klaten. Sawah seluas 879,5 hektare di wilayah itu puso dalam beberapa waktu terakhir.

Padahal, puncak musim kemarau baru terjadi Agustus mendatang. Berdasarkan data yang dihimpun Solopos.com dari Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikananan (DPKPP) Klaten, areal pertanian yang terdampak musim kemarau hingga pertengahan Juli 2019 tersebar di sembilan kecamatan.

Sembilan kecamatan itu, yakni Bayat, Cawas, Pedan, Gantiwarno, Wedi, Trucuk, Karanganom, Ceper, dan Karangdowo. Dampak kekeringan terbesar dialami para petani di kawasan Bayat, yakni sawah seluas 425 hektare dipastikan puso.

“Yang terjadi tahun ini, musim hujan mundur dan musim kemarau maju. Akhir April 2019 sudah tidak ada hujan lagi [di Klaten]. Padahal di berbagai daerah, sangat mengandalkan air hujan [untuk irigasi]. Lantaran tak ada air hujan sama sekali, sawah yang puso sudah mendekati 880 hektare itu," jelas Kepala DPKPP Klaten, Widiyanti, saat ditemui wartawan di kantornya, Senin (22/7/2019).

Widiyanti mengatakan waktu-waktu sebelumnya sekitar 1-2 tahun lalu, kondisi seperti ini tidak ada. Panas yang terjadi saat ini saat siang hari dinilainya sangat menyengat.

Tanaman padi yang puso di Klaten rata-rata sudah berusia sekitar dua bulan. Sedianya, tanaman padi itu sudah bisa dipanen satu bulan mendatang.

“Dilihat dari waktunya, hasil musim tanam [MT] II seperti ini yang ditunggu-tunggu para petani. Hasil MT II biasanya paling tinggi. Persoalannya, tanaman padi di berbagai daerah kekurangan air. Padahal, tanamannya sudah merkatak [menguning],” katanya.

Dengan kondisi seperti ini, para petani merugi. Biaya operasional menanam padi seluas satu hektare rata-rata Rp6 juta.

Meski sawah yang puso di Klaten mendekati 880 hektare, lanjut Widiyanti, kebutuhan beras di Klaten tetap terjamin. Hingga November 2018, Klaten mengalami surplus beras hingga 131.000 ton.

“Semoga memasuki Oktober mendatang sudah turun hujan sehingga produksi padi dapat digenjot lagi. Hitung-hitungan kasar di Klaten itu, panen satu kali dapat digunakan selama dua tahun berikutnya,” katanya.

Luas lahan tanaman padi di Klaten totalnya mencapai 174.860 hektare per tahun. Adanya sawah puso itu dinilai tidak berpengaruh terhadap ketahanan pangan Klaten yang dikenal sebagai daerah penyangga pangan nasional.

Terpisah, Camat Bayat, Edy Purnomo, mengakui adanya sawah yang puso di daerahnya selama musim kemarau tahun ini. “Sawah di Bayat itu saat berlangsung musim kemarau banyak yang puso karena kurang air. Kalau musim penghujan, musuhnya banjir,” katanya.