Solo Butuh Ikon Wisata Malam Agar Turis Betah Menginap

Pertunjukan wayang orang di GWO Sriwedari Solo. (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)
24 Juli 2019 13:15 WIB Bayu Jatmiko Adi Solo Share :
Solopos.com, SOLO -- Kota Solo dinilai belum memiliki destinasi wisata di malam hari yang kuat menahan wisatawan untuk menginap lebih lama di Kota Bengawan. Padahal, jumlah fasilitas akomodasi di Solo cukup banyak. 

Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Solo, Pri Siswanto, mengatakan sebagai wilayah yang lokasinya berada di tengah, Solo diharapkan menjadi pilihan para wisatawan yang berkunjung  untuk menginap.

Dia mengatakan Solo bukan berarti satu kota saja, namun bisa mencakup wilayah sekitar. Diharapkan keunggulan destinasi di wilayah-wilayah sekitar hingga sebagian di Jawa Timur pun bisa difasilitasi paket Solo. 

Dia mengatakan dari sisi destinasi wisata, saat ini banyak berkembang di daerah luar Solo. Terlebih untuk destinasi yang menonjolkan kekuatan alam. Sedangkan di Sololebih kuat pada wisata belanja dan kuliner serta akomodasi. Dengan demikian Solo diharapkan bisa menjadi pusat untuk bermalam.

Hanya, perlu adanya upaya untuk bisa memberikan sajian yang bisa menahan wisatawan itu betah bermalam di Solo.

"Apa yang dibutuhkan? Otomatis semacam atraksi di malam hari di dalam kota, untuk mengisi kekosongan yang dirasakan masih kurang oleh wisatawan. Terutama kegiatan atau destinasi yang bisa diterima secara universal," kata Pri kepada solopos.com, Selasa (23/7/2019).

Dia mengatakan saat ini ada kegiatan malam hari yang menarik di Solo, seperti pertunjukan wayang orang. Namun menurutnya hal itu belum bisa mengakomodasi kebutuhan semua segmen.

"Wayang orang menarik tapi hanya sebagian yang tertarik, belum tentu semua yang datang ke Solo tertarik. Wisata belanja juga belum ada yang punya kekuatan ikonik, yang dipromosikan sampai malam, yang menampilkan keunikan Solo. PGS dan Pasar Klewer merupakan wisata belanja tapi sekitar pukul 17.00 WIB sudah tutup. Kami juga mencari destinasi yang bisa diterima secara universal," terang dia. 

Dia mengatakan pada umumnya kegiatan berwisata di Solo dilakukan di pagi atau siang hari. Artinya saat siang hari para wisatawan bisa pergi ke lokasi destinasi yang letaknya bisa saja di luar Solo. Kemudian kembali ke Solo saat sore hari untuk menginap sekalian berwisata kuliner dan berbelanja.

"Penginnya menginap di Solo karena akomodasinya paling lengkap. Tapi untuk menahan orang stay di Solo, harus ada sesuatu yang dikerjakan. Bukan yang kecil-kecil tapi yang lebih memiliki ikon wisata, sehingga wisatawan bisa beranggapan jika bermalam di Solo itu tidak cukup satu malam saja. Masih banyak yang menanyakan, saat malam di Solo mau apa," terang Pri. 

Di luar dari tamu kamar, event Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE), selama ini menjadi andalan hotel-hotel di Solo. Namun bukan berarti hal itu juga tidak lepas dari tantangan.

Pengamat ekonomi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Lukman Hakim, mengatakan sektor MICE menjadi salah satu peluang untuk perhotelan. Namun tantangannya, harus bisa menawarkan fasilitas yang lengkap dan terjangkau dengan kualitas baik.

"Jika sasarannya adalah MICE, hal yang harus diperhatikan tentunya fasilitas MICE yang lengkap. Seperti penguatan pada ruang pertemuan dan fasilitas pendukungnya," tambah dia.

Sedangkan untuk kebutuhan menginap, menurutnya, di Solo sudah terlalu banyak hotel. Dengan jumlah yang sudah terlalu banyak itu, ada baiknya hotel yang sudah ada untuk terus menjaga kualitas. 

"Daya dukung destinasi di Solo cenderung tidak berkembang. Kalau pun di Soloraya seperti Klaten ada destinasi menarik, kemungkinan untuk penginapan akan lebih ke Jogja," terang dia.

Salah satu solusi untuk pengembangan destinasi di Solo adalah dengan kerja sama antardaerah. Dengan menggandeng daerah lain, diharapkan dunia pariwisata di Solo dan sekitarnya bisa terus berkembang. Solusi lain untuk menarik pengunjung adalah dengan mengoptimalkan kegiatan-kegiatan tahunan seperti Solo Batik Carnival (SBC) dan sebagainya. 

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Solo, Hasta Gunawan, mengatakan saat ini hotel di Solo tetap laku, hanya belum seperti yang diharapkan.

"Ini PR kami untuk bangun destinasi. Kami terus perbaiki destinasi yang ada. Penataan Sriwedari, Balekambang, Jurug [Taman Satwa Taru Jurug], semua sedang kami lakukan," kata dia. 

Diketahui setiap tahun Solo juga memiliki kalender event yang diharapkan bisa menarik perhatian masyarakat luas untuk berkunjung ke Solo. Event tersebut muncul hampir di setiap bulan sepanjang tahun. Misalnya saja pada Januari ada Grebeg Sudiro.

Memasuki Februari ada Solo Great Sale (SGS), Imlek Festival dan Semarak Jenang Solo. Di Maret ada Festival Dalang Cilik. Di bulan April ada Solo Indinesia Culinary Festival dan sebagainya.

Berdasarkan data Dinas Pariwisata Solo, jumlah kunjungan wisatawan di Solo, setiap tahunnya cenderung naik. Pada 2016 ada 4.395.550 pengunjung yang terbagi 33.682 pengunjung mancanegara dan 4.361.868 pengunjung domestik.

Sedangkan di 2017, terdapat 4.503.245 pengunjung yang terbagi 34.423 pengunjung mancanegara dan 4.468.822 pengunjung domestik. Kemudian pada 2018, jumlah kunjungan wisatawan ke Solo per Oktober sebanyak 3.406.547 orang. Jumlah tersebut terdiri dari 22.512 pengunjung mancanegara dan 3.384.035 pengunjung.