Tak Tercatat, Tabungan Petani Nasabah BKK Tawangsari Sukoharjo Ini Hilang Rp20-An Juta

Ilustrasi korupsi (Solopos - Wishnu)
24 Juli 2019 20:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Petani asal Lorog, Tawangsari, Sukoharjo, Sumiyati, dihantui keresahan dalam beberapa hari terakhir. Betapa tidak?

Uang yang rutin ia tabung sedikit demi sedikit di PT BKK Jawa Tengah Unit Tawangsari Sukoharjo hingga terkumpul RpRp26.204.831 kini tinggal Rp4.200.000 yang tercatat di komputer bank tersebut. Uang Rp22 juta lainnya tak tercatat.

"Saya kaget waktu cek terakhir saldo tabungan hanya Rp4,2 juta. Padahal di buku tabungan saya tercatat Rp26 juta lebih," keluhnya ketika dijumpai wartawan, Rabu (24/7/2019).

Sumiyati menjadi nasabah PT BKK Jateng Unit Tawangsari (dulu bernama PD BKK Sukoharjo Cabang Tawangsari) sejak 2008 lalu. Dia rutin mulai menabung sejak November 2008.

Hingga terakhir saldo di buku tabungan miliknya tercatat Rp26.204.831. Namun dari jumlah itu hanya Rp4.200.000 yang tercatat dalam sistem komputerisasi bank. Sementara sisanya tidak diketahui keberadaannya.

"Saya kaget waktu di cek terakhir saldo tabungan hanya Rp4,2 juta. Padahal di buku tabungan saya tercatat Rp26 juta lebih," keluhnya ketika dijumpai wartawan, Rabu (24/7/2019).

Selama ini, dia tak menaruh curiga atas dana simpanannya meski pencatatan dalam buku tabungan dilakukan secara manual dan bukan menggunakan sistem komputerisasi. Proses menabung biasa dilakukan saat petugas bank mendatanginya ke rumah.

"Saya tidak curiga sama sekali. Lah wong kuwi buku tabungan asli, tapi memang ditulis tangan. Tapi ada cap dari bank jadi saya tidak curiga," katanya.

Dia kini resah, khawatir dana simpanannya tak bisa kembali. Padahal uang tabungan itu disiapkan untuk keperluan sekolah anaknya. "Saya berharap ada jaminan uang kita bisa kembali sesuai data buku tabungan," harap dia.

Sumiyati menuturkan telah dua kali dimintai keterangan oleh penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Sukoharjo ihwal raibnya dana nasabah tersebut. Kini dia pasrah menunggu keputusan hukum atas kasus itu.

"Saya sebagai wong cilik hanya minta duitnya kembali utuh. Itu saja," katanya.

Nasib yang sama dialami nasabah lain, Saniwati warga Kemasan, Tawangsari, Sukoharjo. Dia mulai menabung di PT BKK unit Tawangsari ini sejak Februari 2005 lalu.

Selama ini, dia juga tak curiga atas ketidakberesan dalam sistem penabungan tersebut. Saat itu di benaknya yang ada rasa aman menabung di BKK Tawangsari. Namun dananya raib.

"Total saldo terakhir pada Oktober 2018 Rp23.626.560, tapi yang tercatat di sana hanya Rp5.500.000. Itu uang yang bisa diambil," katanya.

Petugas bank selama ini mendatangi nasabah dalam setiap proses penyetoran simpanan. Setiap menyetorkan uang, buku tabungan tidak bisa langsung dibawa pulang.

Alasannya komputer rusak sehingga buku tabungan miliknya ditahan petugas. "Dulu alasannya buku tabungan tidak langsung diberikan karena untuk mencocokkan dengan data di komputer," tuturnya.

Dia kecewa karena dana tabungan yang dia percayakan kini tak jelas keberadaannya. Dia hanya berharap dana bisa dikembalikan ke nasabah secara utuh.

Sebagaimana diinformasikan, dana tabungan nasabah PT BKK Jateng Cabang Tawangsari Sukoharjo diduga digelapkan oleh oknum pegawai bank tersebut. Kerugian akibat kasus ini mencapai Rp5 miliar.

Kejari telah memeriksa belasan orang saksi dan meningkatkan status penanganan kasus ini menjadi penyidikan meski belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.