Situs Kragilan dan Stupa Nepen Boyolali Tak Terawat

Kondisi situs Kragilan di Dukuh Watugenuk, Desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo, Boyolali. Foto diambil Jumat (19/7 - 2019)
25 Juli 2019 07:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Kawasan Alun-alun Utara, di Desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, berkembang pesat. Kini salah satu ruang publik kenamaan itu dilengkapi sejumlah miniatur tujuh keajaiban dunia, di antaranya Candi Borobudur, Masjid Tajmahal, dan Patung Spinx.

Tidak jauh dari sana, sekitar 300 meter di sisi utara, tepatnya di Dukuh Watugenuk, Desa Kragilan, Situs Kragilan ditemukan beberapa tahun lalu.

Untuk mencapai lokasi situs Kragilan warga mesti berjalan kaki melewati jalan setapak di tengah perkebunan warga. Kira-kira 500 meter dari tepi jalan raya.

Jalan setapak itu hanya berupa gundukan tanah yang menjadi batas antarpetak perkebunan. Setelahnya, ada bagian tanah yang lebih tinggi dibandingkan di sekelilingnya.

Di tanah yang tinggi inilah situs Kragilan berada. Menemukan situs ini juga bukan perkara gampang bagi yang tidak terbiasa. Pasalnya, dari kejauhan situs tertutup pohon bambu dan dedaunan sehingga tak begitu terlihat. Situs tersebut baru bisa terlihat dengan menyibak dedaunan.

Solopos.com mencoba mendatangi situs Kragilan Jumat (19/7/2019). Saat itu, situs dalam keadaan tidak terawat. Beberapa batu terlihat tergeser dari tempatnya semula.

Selain itu, juga terdapat satu piring kecil yang terbuat dari gerabah. Piring itu menampung beberapa sesaji yang ditinggalkan begitu saja. Keadaan makin diperparah dengan daun-daun kering dan tumbuhan liar yang memenuhi area situs. Dedaunan itu membuat kaki sulit melangkah untuk menjangkau sisi yang lain. Padahal situs Kragilan ini terdiri dari sejumlah batu yang terpisah.

Seorang warga Watugenuk, Siti, 50, menunjukkan hanya berjarak beberapa langkah di kompleks yang sama terdapat sebuah batu yang kini pecah.

“Dulu batu itu terdiri dari dua bagian yang melambangkan patung sapi yang sedang duduk, satu merupakan tubuh dan satunya merupakan kepala, namun kepalanya hilang entah ke mana,” ujar Siti.

Dia menambahkan gundukan tanah yang tidak rata di sekitar situs Kragilan menunjukkan dulunya situs ini pernah digali untuk menemukan dasarnya.

Tekstur tanah di sisi bawah memang terlihat lebih basah daripada di permukaan. “Dari sana kita tahu bangunan ini ada dua lapis,” kata dia. Siti juga sempat bercerita selain kepala patung sapi, lingga dan yoni yang merupakan bagian dari situs sempat raib.

Dari peristiwa itu, sejumlah warga Watugenuk menyayangkan tidak terawatnya situs yang merupakan peninggalan kebudayaan Hindu ini. Selain siti, warga lain, Sudadi, 35, juga menyampaikan hal serupa. “Sebelum banyak diketahui orang, warga lokal sering berdatangan untuk berdoa di situs itu,” ungkap Sudadi ketika ditemui di rumahnya.

Kabar mengenai ekskavasi benda-benda cagar budaya sempat didengarnya beberapa kali, namun hingga kini hal tersebut nihil dilakukan.

Cerita mengenai terbengkalainya benda-benda cagar budaya juga bukan merupakan perkara baru. Sama seperti situs Kragilan, di Desa Nepen, Kecamatan Teras, situs kebudayaan juga terlihat tidak terawat.

Pada awal ditemukan pada tahun 2016 lalu, sedikitnya empat benda peninggalan purbakala berupa bagian-bagian batu stupa yang tercecer di beberapa lokasi di Desa Nepen, Kecamatan Teras, Boyolali.

Berlumut

Empat stupa dan bagian-bagiannya ditemukan di empat lokasi berbeda. Satu stupa utuh dengan tinggi 1,5 m dan diameter sekitar satu meter berada di Dusun Kestalan dekat Umbul Nyamplung. Stupa tersebut bahkan sudah berlumut.

Tiga bagian stupa lainnya berada di Dusun Nepen, dengan posisi tergeletak di kebun-kebun warga. Tiga bagian stupa yang ada di Dusun Nepen, diketahui sebagai roda terbuat dari batu dan baut batu berbentuk segi delapan. Dari tiga stupa yang sempat diketahui warga, satu di antaranya terpendam di tanah.

Di Dusun Kestalan. Stupa tersebut tergeletak di area permakaman dusun setempat. Untuk mencapainya, hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki sejauh seratus meter melewati area permakaman Dusun Kestalan.

Di sekeliling stupa yang diyakini posisinya tidak berubah sejak kali pertama ditemukan itu, semak belukar dan rumput yang cukup tinggi tumbuh di sekelilingnya.

Budha

“Jalan tempat stupa memang bukan jalan utama, warga hanya melewatinya untuk menuju sungai tak jauh dari sana,” ujar Ika Sulistyawati, 30, warga yang rumahnya berdampingan dengan kawasan permakaman.

Museum Boyolali pernah mengusulkan kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah agar dilakukan penggalian di lokasi keberadaan stupa saat ini, yakni ada di Dusun Kestalan dan Dusun Nepen. Namun, sudah bertahun-tahun tidak ada tindak lanjut.

Penemuan stupa di Nepen terbilang penemuan penting. Stupa di Nepen adalah satu-satunya temuan benda kuno yang berkaitan dengan peradaban atau peninggalan agama Budha. Sedangkan kebanyakan benda kuno atau situs candi yang kerap ditemukan di Boyolali adalah peninggalan Hindu.

Stupa Budha di Nepen diketahui sebagai peninggalan abad IX. Berdasarkan cerita sejarah, komunitas Budha zaman dulu banyak tinggal di daerah Nepen, Teras. Berbeda dengan kondisi sekarang yang lebih banyak berada di wilayah Ampel.