Korban Laka Truk Hantam Puskesmas Mojosongo Boyolali Dikenal Pintar dan Grapyak

Kerabat membawa jenazah Irza Laila Nur Trisna Winandi, 21, dari rumah duka di Perum Bumi Singkil Permai, Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali Kota, Boyolali, Kamis (21/7/2019) siang ke permakaman Sasanalaya Sapiyan, Metuk, Mojosongo, Boyolali. (Solopos - Akhmad Ludiyanto)
25 Juli 2019 18:15 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Irza Laila Nur Trisna Winandi, 21, yang meninggal dunia akibat tertabrak truk yang menghantam Puskesmas Mojosongo, Boyolali, dimakamkan di Sasanalaya Sapiyan, Metuk, Mojosongo, Boyolali, Kamis (21/7/2019).

Pantauan Solopos.com di rumah duka, Perum Bumi Singkil Permai, Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali Kota, Boyolali, Kamis siang, pelayat berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa.

Di tengah upacara pemakaman terdengar lirih suara tangis seorang perempuan. Dia masih meratapi kepergian Irza yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di kawasan pertigaan Wika, Mojosongo, pagi hari itu.

Saat itu Irza sedang berada di halaman Puskesmas Mojosongo ketika sebuah truk kontainer yang melaju di jalan Solo-Semarang tiba-tiba menyelonong ke arah puskesmas dan menabraknya hingga ia meninggal.

Seribuan pelayat memadati kompleks perumahan tersebut. Mereka berasal dari berbagai kalangan seperti kerabat, tetangga, teman kuliah maupun sekolah Irza, kolega orang tua, dan aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Boyolali.

Mereka tertunduk sambil berucap amin saat Anjar Sigit Warsito, tokoh agama setempat, mulai memanjatkan doa untuk mengiringi kepergian jenazah Irza.

Seusai doa, jenazah dibawa keluar rumah menuju makam Sasanalaya Sapiyan, Metuk, Kecamatan Mojosongo, Boyolali. Sebagian pelayat mengantar Irza ke tempat peristirahatan terakhirnya, sebagian lainnya tetap berada di sekitar rumah.

Ditemui seusai upacara pelepasan jenazah itu, para tetangga mengatakan mereka sangat kehilangan putri sulung pasangan Nur Rimhan dan Dwi Yani Merbawaningrum ini. Menurut mereka, Irza yang akrab disapa Ica ini semasa hidup adalah anak pintar yang ramah dan grapyak.

“Dia anaknya baik, grapyak, dan pintar,” ujar salah satu tetangga Irza, Dwi Harini, 48.

Dwi yang rumahnya di seberang jalan rumah Ica ini masih tak percaya Ica telah tiada. Sehari sebelumnya Ica sempat meminta didoakan agar ujian skripsi yang akan Ica jalani pada Kamis sekitar pukul 13.00 WIB itu berjalan lancar.

Namun, rupanya Tuhan berkehendak lain karena hanya beberapa jam sebelum ujian itu dijalaninya, mahasiswa semester VIII salah satu perguruan tinggi di Solo ini dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

“Kemarin [Rabu] dia [Ica] ke sini minta didoakan katanya mau ujian skripsi. Tapi malah seperti ini,” imbuhnya.

Tetangga lainnya, Hendrarto Setyo Wibowo, juga mengatakan Ica yang merupakan mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo adalah anak yang pintar. Semasa bersekolah di SMPN 1 Boyolali, Ica merupakan bagian dari kelas akselerasi.

Demikian pula saat dia melanjutkan studi di SMAN 1 Boyolali, Ica kembali masuk dalam kelas percepatan tersebut dan lulus pada 2015. “Dia itu anaknya pintar. Saat masih SMP dan SMA dia ikut kelas akselerasi,” kata Hendrarto yang juga Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Boyolali ini.

Ica, lanjutnya, juga sangat akrab dengan putrinya, Diang Ayu Larasati yang berusia sebaya. “Dia sangat akrab dengan anak saya. Sebulan yang lalu dia menginap beberapa hari di rumah bareng anak saya. Di rumah saya sudah seperti rumah sendiri,” kata Hendrarto yang kemudian berhenti bercerita karena tak kuasa menahan air mata.

Sesaat kemudian dia kembali berucap untuk mendoakan agar Ica termasuk orang-orang yang berakhir baik. “Dia pergi dalam langkah menuntut ilmu. Semoga dia husnul khotimah,” ujarnya sambil mengusap kembali air matanya.