Tertipu Arisan Online, Wanita Sukoharjo Laporkan Warga Solo ke Polisi

ilustrasi uang untuk arisan. (Solopos/Dok)
26 Juli 2019 13:45 WIB Ichsan Kholif Rahman Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Warga Kelurahan Madegondo, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Dini Indriani, 21, melaporkan RW alias NN, warga Laweyan, Kota Solo, atas dugaan tindak penipuan atau penggelapan di Mapolresta Solo, Jumat (26/7/2019) pagi.

Dini Indriani mengaku mengalami kerugian sebesar Rp26 juta setelah arisan yang ia ikuti sejak satu tahun terakhir tidak dibayarkan RW selaku penyelenggara arisan.

Pelapor saat ditemui solopos.com di Mapolresta Solo, mengatakan mengenal RW bermula sebagai hubungan penjual dan pelanggan pakaian melalui media sosial. Kemudian RW menyelenggarakan arisan senilai Rp26 juta dengan 14 peserta melalui grup Whatsapp.

“Saya ikut dua kuota arisan, setiap dua pekan peserta harus membayar Rp1 juta sebagai biaya arisan. Saya merasa ditipu oleh penyelenggara arisan karena peserta arisan seharusnya mendapat Rp26 juta tapi peserta arisan hanya mendapat Rp25 juta saja. Alasannya yang Rp1juta sebagai biaya administrasi tapi tanpa kesepakatan di awal,” ujarnya.

Dini mengatakan kuota arisan pertama telah dibayarkan Rp25 juta namun slot kedua hanya dibayarkan Rp3,3 juta. Penyelenggara tidak membayar perolehan arisan secara utuh dan Dini harus meminta kepada peserta yang lain.

“Saya tidak mau menerima uang Rp3,3 juta langsung saya kembalikan, dia telah menerima Rp1 juta dari potongan yang ia buat sepihak. Seharusnya dia sebagai penyelenggara profesional kan sudah memotong satu juta setiap perolehan arisan setiap dua pekan,” imbuhnya.

Ia mengaku semula arisan berjalan melalui pertemuan dua pekan sekali, kemudian berubah menjadi arisan grup Whatsapp dengan pembayaran transfer.

Kasatreskrim Polresta Solo, Kompol Fadli, membenarkan telah menerima laporan terkait permasalahan arisan. 

“Kami segera memanggil saksi-saksi untuk mengungkap fakta sebenarnya. Modusnya sebuah arisan, penyelenggara tidak membayar perolehan arisan. Kami teliti dulu apakah masuk dalam pidana atau tidak,” ujarnya.