Krisis Air, Warga Tawangsari Sukoharjo Cari Sumber Air ke Luar Desa

Anggota FKMSM memberikan bantuan air bersih kepada warga di Dusun Gunung Botak, Karangmojo, Weru, Sukoharjo, Minggu (16/9 - 2018). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
26 Juli 2019 15:00 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – Krisis air bersih dialami warga di Desa Pundungrejo, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo. Warga bahkan mencari sumber air bersih hingga ke desa lain yang berjarak beberapa kilo meter dari rumah.

Sebagian warga lainnya rela merogoh kocek Rp30.000 hingga Rp50.000 per hari untuk membeli air bersih. Salah satu warga Dukuh Banaran, Desa Pundungrejo, Subono mengaku untuk memenuhi kebutuhan air bersih, ia harus pergi hingga ke desa lain.

"Tiap hari harus ke Desa Watubonang untuk mengambil air bersih. Di sana ada sumur yang sumber airnya masih banyak," kata dia, Jumat (26/7/2019).

Dalam sehari setidaknya 10 jeriken dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti keperluan mandi dan memasak bagi enam anggota keluarganya. Sedangkan untuk kebutuhan mencuci baju harus dilakukan langsung ke lokasi sumur di Desa Watubonang. Sebab untuk mencuci baju membutuhkan air yang cukup banyak sehingga tidak memungkinkan jika dilakukan di rumah.

"Selama ini kita ngambil air hanya untuk mandi dan masak saja," katanya.

Dia mengatakan krisis air bersih mulai dialami sejak sepekan terakhir. Tepatnya saat sumur program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) di daerahnya mulai mengalami penurunan debit air yang cukup signifikan. Hal ini mengakibatkan air dari sumur Pamsimas hanya mengalir di lokasi terdekat dengan sumur tersebut. Sedangkan rumahnya yang jauh dari lokasi Pamsimas, tak kebagian air.

"Jadi airnya hanya ngitir, bahkan sering mati. Jadi mau tidak mau ngambil air ke desa lain," katanya.

Krisis air bersih juga mulai dialami warga di Desa Watubonang, Kecamatan Tawangsari. Sekretaris Desa (Sekdes) Watubonang, Darmadi menuturkan ada dua dukuh di wilayahnya yang mulai mengalami krisis air bersih, yakni Dukuh Watulumbung dan Tengklik. Sedangkan wilayah lainnya masih aman.

"Air sumur warga di dua dukuh itu [Watulumbung dan Tengklik] sudah kering. Mereka juga sudah mencari sumber air ke sumur-sumur yang masih ada airnya," katanya.

Camat Tawangsari Joko Windarto menyebut daerah rawan krisis air bersih tersebar di dua desa, yakni Desa Pundungrejo dan Desa Watubonang. Hal ini lantaran secara geografis kondisinya berupa perbukitan dan berada di daerah padas.

"Di Pundungrejo ada 1.224 KK dan Watubonang 2.000 KK yang rawan terdampak kekeringan berupa krisis air bersih," katanya.