Lucunya Aksi Bocah 1,5 Tahun di Solo Batik Carnival 2019...

Peserta Solo Batik Carnival (SBC) 2019 berjalan di Jl. Slamet Riyadi, Solo, Sabtu (27/7/2019). (Solopos - M. Ferri Setiawan)
27 Juli 2019 20:40 WIB Mahardini Nur Afifah Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Kaki mungil Airlangga Damas Atmaja menapaki titik awal keberangkatan pawai tahunan Solo Batik Carnival (SBC) 2019 di depan Stadion Sriwedari, Sabtu (27/7/2019) sore.

Bocah berusia 1,5 tahun itu tampil menggemaskan dengan setelan atasan ponco dan celana batik bermotif klasik Sidoluhur, lengkap dengan hiasan ornamen khas Jawa bernuansa emas serta manik-manik, dan sepatu bot emas.

Bagian samping wajahnya berhias face painting ornamen etnik warna hitam. Tangan Damas, sapaan akrabnya, luwes mengayun-ayunkan properti kostum dari material busa ati yang sudah dihias serupa pedang.

Dia tak canggung berlenggak-lenggok di panggung dan ditonton ratusan pasang mata tamu undangan serta penonton yang berjejal di mulut Jl. Bhayangkara.

SBC 2019

Peserta balita Airlangga Damas Atmajaya, 1,5 tahun (tengah), didampingi orang tuanya saat defile Solo Batik Carnival (SBC) XII dari kawasan Stadion Sriwedari menuju Balai Kota Solo, Sabtu (27/7/2019). (Solopos/M. Ferri Setiawan)

Kedua orang tua Damas, pasangan Eko Prasetyo, 26, dan Anggita Putri, 23, ikut menemani putra mereka dengan kostum karnaval bergaya senada. Peserta satu keluarga ini masuk kelompok delegasi Laos bersama seratusan peserta karnaval lainnya.

Aksi lucu nan menggemaskan Damas itu dihujani tepuk tangan penonton SBC. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, di deretan undangan juga seketika beranjak dari tempat duduknya begitu peserta termuda karnaval ini singgah dan minta berjabat tangan dengannya.

Spontan, Gubernur yang sore itu ikut meramaikan SBC ke-12 dengan mengenakan kostum khas Timor Leste menyambut tangan Damas, menggendong, dan mengajaknya foto bersama.

“Beruntung anaknya enggak rewel,” tutur Eko Prasetyo, ayah Damas, di sela-sela karnaval.

Eko sudah dua tahun terakhir mengajak anak dan istrinya mengikuti SBC. Tahun lalu, Damas juga turut ikut karnaval namun menggunakan kereta dorong.

“Ini sudah mulai jalan sendiri. Pas jalan di Jl. Slamet Riyadi dia naik mobil remote control yang sudah dihias,” ujar dia.

Menurut Eko, sang putra sejak awal antusias mengikuti karnaval tahun ini. Ketika sudah sampai rumah dan sudah kelar sesi latihan menggunakan kostum karnaval, Damas kerap enggan mencopot busana tersebut.

“Ini tadi ibunya dandan dari jam delapan pagi. Saya jam sembilan pagi. Untung tadi pagi Damas bobok. Jadi enggak rewel. Pas bangun siang, baru didandani cepet-cepetan,” beber dia.

Sejak April atau empat bulan lalu, keluarga Eko bersama peserta dari 11 defile mulai berproses menyiapkan karnaval. Mereka berasal dari pendaftar serta perwakilan kelurahan di Kota Bengawan.

Agenda budaya SBC XII 2019 mengusung tema Suvarnabhumi, The Golden of ASEAN. Temanya merepresentasikan keindahan negara Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, Kamboja, Timor Leste, dan Indonesia. Tujuannya sebagai ajang pertukaran budaya.

Setiap peserta SBC mengeksplorasi ikon atau keindahan negara ASEAN. Misalnya pagoda untuk defile Thailand, rumah adat khas Timor Leste, nuansa biru khas keindahan laut Filipina, atau loro blonyo untuk Indonesia. Ide kreatif tersebut diwujudkan dalam kostum karnaval berbasis kain batik bermotif klasik Solo.

Selain ajang unjuk kreativitas, SBC XII juga menjadi ajang silaturahmi budaya antardaerah. Ada dari Semarang Night Carnival, Grobogan Carnival Centre, serta Samarinda Sarung Carnival.

Perwakilan dari Samarinda Sarung Carnival memboyong enam peserta untuk unjuk gigi di karnaval kebanggaan Wong Solo. Mereka menghadirkan kostum karnaval dengan ciri hiasan setempat, batik, dan sarung khas Samarinda.

“Ini tahun kedua kami ikut karnaval di Solo. Tujuannya untuk promosi Samarinda. Tahun ini kami juga bawa orang karnaval Solo untuk mengajari kami bikin karnaval di Samarinda,” tutur Irsanie, perwakilan Samarinda Sarung Carnival.

Gubernur Ganjar Pranowo menyampaikan saat ini di Jawa Tengah sudah bermunculan berbagai karnaval. Pihaknya mendukung kegiatan budaya sejenis pawai dan karnaval sebagai bagian ikhtiar menciptakan magnet wisata. “Atraksi seperti karnaval ini perlu agar menarik wisatawan. Kami mendukung,” tuturnya.