Tol Solo-Jogja Kenai Permukiman Dan Sawah Subur di Kapungan Klaten

Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengecek lokasi yang bakal terdampak tol Solo-Jogja di Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Selasa (9/7/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
27 Juli 2019 01:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Proyek pembangunan tol Solo-Jogja diperkirakan bakal menggusur permukiman dan sawah subur di Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo, Klaten. Desa itu disebut-sebut menjadi salah satu dari tiga lokasi exit tol.

Penjabat (Pj) Sekretaris Desa (Sekdes) Kapungan, Purnomo, mengatakan informasi soal Desa Kapungan masuk dalam rencana proyek jalan tol diterima sejak Oktober 2018 lalu ketika ada tim dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendatangi kantor desa setempat.

Tim tersebut menunjukkan gambar foto udara wilayah Kapungan yang masuk rencana proyek jalan tol Solo-Jogja serta mendatangi sejumlah lokasi mulai dari perkampungan, sawah, serta kawasan sutet.

“Hanya sekali itu saja [petugas Kementerian PUPR] datang ke kantor desa. Sampai sekarang belum datang lagi,” kata Purnomo saat ditemui di kantor desa setempat, Kamis (25/7/2019).

Daerah yang masuk rencana terdampak proyek jalan tol mayoritas sawah. Sementara permukiman terdampak berada di Dukuh Mendungan. Sawah yang bakal tergusur proyek tol itu terhitung subur.

Selama ini petani di wilayah itu tidak perlu mengeluarkan biaya lebih agar padi yang mereka tanam tumbuh subur. “Petani hanya perlu biaya produksi Rp1,5 juta untuk menggarap satu patok sawah [2.000 meter persegi]. Sementara tanah yang tidak terlalu subur itu butuh biaya lebih dari Rp2 juta,” kata dia.

Purnomo mengatakan informasi soal rencana proyek jalan tol melintasi wilayah Kapungan hingga kini belum pasti. Tim dari Kementerian PUPR baru sekali mendatangi pemerintah desa setempat.

Namun, kabar soal rencana proyek jalan tol itu menjadi perbincangan utama warga Kapungan. Apalagi beredar data soal luasan lahan serta peta terdampak proyek tol setelah ada rapat pembahasan rencana proyek jalan tol di tingkat provinsi pekan lalu.

Daerah terdampak proyek jalan tol di wilayah Kapungan diperkirakan mencapai 31 ha. Dari luasan itu, lebih dari 25 ha merupakan sawah. Sebagian warga mulai kebingungan soal di mana mereka bakal tinggal setelah tergusur proyek tol.

Sebagian petani Kapungan juga mulai memburu lahan yang bisa mereka beli dan manfaatkan untuk pertanian jika sawah mereka benar-benar tergusur jalan tol.

“Muncul wacana-wacana dari warga mau mencari lahan di desa lain meskipun tidak subur setidaknya tetap bisa bertani,” urai dia.

Purnomo mengatakan jika proyek tol dipastikan melintasi Kapungan, pemerintah desa setempat tetap harus mendukung proyek tersebut lantaran sudah menjadi program nasional. Hanya, dia berharap warga Kapungan tetap diuntungkan.

“Harapannya yang penting Desa Kapungan diuntungkan. Ganti lahan yang diberikan juga bisa lebih. Akses bagi warga juga difasilitasi. Kalau ada warga yang akhirnya tidak bisa bertani karena terdampak tol, pemerintah bisa memfasilitasi mereka untuk berusaha sebagai pengganti pertanian,” kata dia.

Salah satu warga Dukuh Mendungan, Ari, 31, mengatakan rencana proyek jalan tol di Kapungan belakangan santer dibicarakan warga apalagi ada perkampungan yang bakal terdampak.

“Itu kan programnya dari pemerintah, mau bagaimana lagi? Yang penting nilai gantinya bisa lebih,” kata Ari.

Salah satu petani, Suyadi, 67, mengatakan meski santer dibicarakan warga, dia tak terlalu memikirkan kabar soal rencana proyek jalan tol lantaran belum pasti.

“Katanya kalau saya yang kena hanya rumah. Sementara sawah tidak kena tol. Mau bagaimana lagi, sudah programnya pemerintah,” kata dia.