Tugu Jati Bedug Wonogori: Penanda Batas Wilayah dan Misteri yang Menyelimutinya

Warga melintasi tugu Jati Bedug di jalan Kelir-Manyaran, Dusun Munggur Jatibedug, Kelurahan Kepuhsari, Manyaran, Senin (22/7 - 2010). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
27 Juli 2019 16:00 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI – Tugu dari bata menyerupai lilin berdiri kokoh tepat di tengah jalan Kelir-Manyaran. Di tepi jalan dekat bangunan berdiameter sekitar dua meter dan tinggi empat meter itu berderet penanda batas wilayah baik Jawa Tengah dengan DIY hingga Wonogiri dan Sukoharjo.

Jika kita berdiri di tugu itu, setidaknya kita sedang berada di batas tiga wilayah adminisratif yakni Kabupaten Wonogiri di timur tugu, Kabupaten Gunung Kidul di barat tugu, dan Kabupaten Sukoharjo di utara tugu. Ia juga menjadi batas antara kerajaan Mangkunegaran dan Kesultanan Yogyakarta. Orang-orang menyebut tugu itu sebagai tugu Jati Bedug.

Penamaan Jati Bedug diyakini berasal dari sebuah cerita pada masa muda Mangkunegara I alias RM Said. Dalam perjalanan pulang menembus terik mentari seusai berguru kepada seseorang di daerah Tapan dan Banyubiru, RM Said istirahat di hutan. Ia tiduran sementara tangannya menggenggam janggleng atau biji pohon jati. Saking lelahnya, RM Said pun tertidur.

“Begitu bangun, janggleng itu malah bertunas. Maka ditanamlah biji itu hingga tumbuh pohon jati besar berdiameter sekita empat meter waktu itu,” kata Hadi Wiyono, 57, saat berbincang dengan Solopos.com di rumahnya yang berjarak 20 meter dari tugu itu. Rumah Hadi masih masuk wilayah Wonogiri yakni Dusun Munggur Jatibedug, Kelurahan Kepuhsari, Manyaran.

Pohon jati tumbang sendirinya. Lalu, oleh Belanda, di lokasi itu dibangun tugu batas wilayah. Hadi tidak tahu persis kapan tahun dibangunnya tugu. Namun, menurut cerita yang diterima dari kakek dan ayahnya, pada saat pembangunan tugu itu dua raja yakni dari Mangkunegaran dan Kesultanan Yogyakarta turut hadir.

“Di lokasi jati itu dibikin tetenger atau monumen petilasan yang hingga kini masih ditemui bentuknya yakni tugu. Dulu, di sekitar sini semua hutan. Baru dibuka jalan setelah merdeka dan mulai diaspal pada 80-an,” imbuh dia, ditemani istrinya Sutarni.

Sejumlah misteri
Tugu itu diyakini tak berubah dari dulu hingga kini. Sejumlah upaya pemugaran hingga perobohan selalu gagal dengan sejumlah cerita di luar nalar. Kondisi yang tak pernah berubah itulah tak jarang tugu itu dipakai sebagai landmark khususnya para sopir travel dan bus dari luar Jawa saat mau melintasi kawasan itu. Mereka menyebutnya dengan tugu kuno atau tugu hitam.

“Mungkin penjelasannya karena itu bangunan Belanda yang memang terkenal kokoh,” beber dia, tertawa.

Sekitar tiga tahun yang lalu, pada suatu subuh di bulan Ramadan, sebuah truk melaju kencang dari arah timur ke barat. Sopir tak melihat jika di tengah jalan ada tugu. Tabrakan pun tak terelakkan. Truk ringsek dan as roda depan bengkok. Tugu itu tak roboh hanya sedikit miring ke barat.

“Meski truk ringsek, sopirnya enggak apa-apa, hanya lecet biasa. Banyak kecelakaan fatal di tugu itu tapi tak pernah ada yang meninggal dunia,” sahut istrinya.

Tak hanya itu, Hadi menceritakan dulu banyak fotografer berusaha memotret tugu itu. Namun, tak ada yang berhasil. Ia tak tahu alasannya. Yang pasti, gambar yang dihasilkan pasti kabur atau seperti tertutup asap.

“Baru sekitar 10 tahun terakhir tugu itu bisa dipotret. Coba lihat kameramu, pasti sekarang ada gambarnya. Dulu susah sekali,” perintahnya kepada Solopos.com. Memang benar, tugu itu terlihat jelas di foto hasil jepretan.