Bagikan 130 Tandon Air ke 36 Desa, Bupati Sragen Akui Bukan Solusi Krisis Air

Puluhan tandon air bantuan dari CSR dikumpulkan di halaman Kecamatan Gesi, Sragen, sebelum dibagikan ke lima desa yang mengalami krisis air bersih pada musim kemarau, Jumat (26/7 - 2019). (Tri Rahayu)
28 Juli 2019 18:30 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati membagikan 130 unit tandon air kepada 36 desa di tujuh kecamatan yang mengalami krisis air bersih setiap kemarau. Bupati mengakui bantuan itu bukan solusi mengatasi krisis air.

Pembagian seratusan unit tandon dengan kapasitas 2.000 liter dan 5.000 liter itu belum menyelesaikan masalah, namun hanya membantu warga mengakses bantuan air bersih.

Bupati menargetkan setiap tahun bisa mengentaskan 10 desa dari krisis air bersih tahunan dengan membangun infrastruktur air bersih di bawah pengelolaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sepanjang 2019, Bupati menyebut sudah mengentaskan empat desa di Mondokan, yakni Tempelrejo, Gemantar, Trombol, dan Kedawung.

Penyerahan tandon air secara simbolis oleh Bupati kepada warga di wilayah Kecamatan Gesi, Sragen, dilakukan di Pendapa Kecamatan Gesi, Jumat (26/7/2019). Di Gesi, Bupati menyerahkan 21 tandon air berkapasitas 2.000 liter yang pengadaannya berasal dari dana corporate social responsibility (CSR), yakni dari RSI Amal Sehat Sragen, PT Aroma Sukowati Sragen, Peduli Sragen, dan Matra.

Sebelumnya Bupati juga menyerahkan 40 unit tandon kepada warga di Sumberlawang dan 24 tandon kepada warga Sukodono pada Rabu (24/7/2019) lalu. “Tandon air bukan menyelesaikan kekeringan, tetapi kami membantu agar warga tidak lagi membuat tandon air dari terpal. Kalau tandon terpal yang dibuat seperti kolam lele itu dihinggapi bebek ya airnya tidak bisa lagi digunakan. Dengan tandon air ini warga lebih mudah mengakses air bantuan . Untuk mengatasi kekeringan di Sragen, kami melakukan diskusi secara intensif [FGD] yang hingga sekarang masih berlangsung,” ujar Bupati di Gesi.

Yuni, sapaan Bupati, meminta perguruan tinggi dan ahli geologi untuk memetakan sumber air, khususnya di utara Bengawan Solo. Apabila menemukan sumber air bawah tanah yang besar, Bupati ingin menemukan cara agar bisa diangkat ke atas. Jumlah desa yang mengalami krisis air saat musim kemarau bagi Yuni tidak banyak. Hanya 36 desa dari 196 desa.

“Kami mengentaskan empat desa di Mondokan itu dengan infrastruktur yang dananya tidak sedikit. Maunya saya targetkan dalam setahun bisa mengentaskan 10 desa. Kalau 36 desa, empat tahun selesai. Target itu berat karena dananya besar. Kemarin minta bantuan ke [pemerintah] pusat belum boleh dengan alasan digunakan untuk kegiatan komersial, PDAM itu kan komersial. Beda dengan Pamsimas, tetapi pengelola pamsimas juga lemah. Kalau alatnya rusak mangkrak,” katanya saat ditemui wartawan, Jumat pagi.

Yuni sempat mengalirkan air tandon yang dipasang di lingkungan Dukuh Macanmati. Di wilayah Gesi dari catatan Camat Gesi Agus Tri Pranoto ada lima desa yang mengalami krisis air bersih, yakni Desa Slendro, Poleng, Blangu, Srawung, dan Gesi.

Ada 2.158 keluarga atau 6.143 jiwa yang mengalami krisis air bersih. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen, Sugeng Priyono, turut serta bersama sukarelawan kemanusiaan untuk mengawal bantuan tandon. Dengan keberadaan tandon air, BPBD lebih mudah menyalurkan bantuan air bersih.