Truk Tabrak Puskesmas di Mojosongo Boyolali, Pegawai Trauma

Truk kontainer menabrak Puskesmas Mojosongo, Boyolali, Kamis (25/7 - 2019). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
29 Juli 2019 09:40 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI — Pascakecelakaan truk trailer menabrak Puskesmas Mojosongo, Kamis (25/7/2019) karyawan dan pegawai puskesmas setempat masih mengalami trauma. Sementara itu, muncul usulan relokasi puskesmas ke tempat lain yang akan dilakukan setelah reakreditasi pada 2020.

Puskesmas Mojosongo ini bukan kali pertama menjadi sasaran kendaraan yang mengalami kecelakaan. Pada 2016, truk tronton nyelonong hingga masuk pagar puskesmas. Pada 2018, sebuah bus kembali nyelonong menabrak Isuzu Panter dari lawan arah dan musala puskesmas turut terimbas dan mengalami kerusakan. Paling akhir, Kamis (25/7/2019) truk kontainer nyelonong masuk ke halaman dan menabrak beberapa bangunan, satu orang meninggal.

Kepala Puskesmas Mojosongo Nur Indah Ekowati mengatakan, saat ini karyawan masih merasa takut melintas atau melihat lokasi bangunan puskesmas yang tertabrak truk. Selain itu, mereka juga merasa takut jika mendengar suara truk di Jalan Solo Semarang yang berada di depan puskesmas, terutama suara guncangan kontainer ketika melintasi pita kejut di jalan raya. Sebab suara seperti ini terdengar sesaat sebelum kecelakaan terjadi.

“Kami semua masih trauma. Pada saat kami melihat gedung yang rusak tertabrak truk kami takut. Apalagi kalau melihat truk lewat atau mendengar guncangan kontainer di jalan. Bagaimana pun peristiwa [kecelakaan] itu sangat mengerikan bagi kami, terlebih ada anggota keluarga kami yang menjadi korban,” ujarnya kepada Solopos.com, Sabtu (27/7/2019).

Sementara itu, sebagai upaya penghapusan trauma, karyawan dan pegawai akan mendapat trauma healing dari tim Rumah Sakit Umum Daerah Pandan Arang (RSUDPA) Boyolali. “Kami mendapat atensi berupa trauma healing dari tim rumah sakit. Rencananya mulai Selasa [30/7/2019] kami akan diberi motivasi untuk menghilangkan trauma kami,” imbuh Indah.

Di sisi lain, Indah mengungkapkan adanya masukan dari kalangan internal, pasien, dan masyarakat agar puskesmas direlokasi ke tempat lain agar terhindar dari bahaya kecelakaan yang kerap terjadi. “Memang banyak masukan agar pueskesmas ini dipindah demi keamanan dan keselamatan kami dan pasien. Dan masukan ini sudah saya sampaikan kepada kepala dinas [Kepala Dinas Kesehatan Ratri S Survivalina],” imbuhnya.

Menurutnya, saat ini relokasi puskesmas belum bisa dilakukan karena pada 2020 akan ada reakreditasi dari Kementerian Kesehatan terkait mutu pelayanan. “Jadi kemungkinan setelah 2020 baru akan dibicarakan lagi mengenai relokasi puskesmas ini.

Sementara itu, Ratri belum dapat dimintai informasi Solopos.com mengenai usulan relokasi tersebut. Saat dihubungi nomornya, telepon tidak diangkat.

Di sisi lain, pelayanan pukesmas sudah dibuka kembali sejak Jumat (26/7/2019) atau sehari setelah ditutup akibat kecelakaan. Namun jumlah pasien yang berkunjung menurun drastis. Sebelum kecelakaan, rata-rata jumlah pengunjung 70 orang, sedangkan pada Jumat sekitar 19 orang saja, itu pun sebagian besar pasien yang meminta surat rujukan.