4 Warga Boyolali Meninggal di Galangan Kapal Semarang, 1 Di Antaranya Baru Bekerja 2 Hari

Upacara pemakaman Huda, warga Pentur, Boyolali, yang meninggal saat bekerja memperbaiki kapal di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Senin (29/7/2019). (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
29 Juli 2019 19:15 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Empat pekerja dokking kapal tongkang yang meninggal di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Senin (29/7/2019) dini hari, diketahui merupakan warga Desa Pentur, Kecamatan Simo, Boyolali.

Tiga dari empat pekerja yang meninggal diduga karena menghirup gas beracun saat memperbaiki kapal Zulkifli 2 itu dimakamkan hari itu juga di desa mereka. Mereka yakni Lamani, 31, Muhammad Nur Huda, 22, dan Jadi, 33.

Setelah dievakuasi ke RSUD Kariadi, ketiganya dibawa pulang ke Pentur untuk dimakamkan. Sementara satu orang lainnya yakni Mardjono, 61, meski lahir di Pentur ia sudah lama berdomisili di Kampung Gondosari II RT 007/ RW 017, Bekasi, sehingga dimakamkan di sana.

Suasana haru dan tangis menyelimuti rumah keluarga korban, salah satunya Nur Huda yang tinggal di Dukuh Karang. Puluhan pelayat berdatangan sejak kabar duka itu sampai ke telinga keluarganya, Senin pagi.

Huda bersama Jadi dan Lamani direkrut Mardjono untuk bekerja lepas di kapal tersebut. Huda baru dua hari sebelumnya atau Sabtu (27/7/2019) pamit kepada keluarganya untuk bekerja di Semarang. Sebelumnya Huda pernah bekerja lepas di beberapa kapal.

“Pamitnya baru dua hari lalu, kami kaget mendengar dia sudah meninggal,” tutur ayah Huda, Dawud Budiman, 42, saat ditemui wartawan di kediamannya di Desa Pentur.

Di mata masyarakat, Huda yang lulusan SMK Muhammadiyah 6 Simo tiga tahun lalu ini dikenal sebagai pribadi yang ramah dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. “Dia masih bujang jadi lebih banyak bergaul dengan warga,” kata Dawud.

Sementara itu, Lamani yang tinggal di Dukuh Jatirejo, meninggalkan seorang anak berusia empat tahun. Sedangkan Jadi meninggalkan seorang istri dan dua orang anak.

Kades terpilih Pentur, Maskuriyadi, menuturkan sebagian warga Pentur bekerja sebagai pekerja lepas kapal. “Ekonomi keluarga yang lemah menuntut warga keluar dari Pentur untuk mencari pekerjaan,” kata dia.

Sebagian besar ikut bekerja karena diajak kerabatnya yang sudah lebih dulu bekerja di kapal. Mewakili keluarga Huda, Maskuriyadi berharap agar proses jaminan keselamatan para pekerja kapal ini bisa cepat diurus.

“Misalnya tadi sempat dibawa ke rumah sakit dan asuransi untuk keluarga yang ditinggalkan siapa yang menanggung mengingat mereka adalah pekerja lepas. Hal ini juga menjadi pembelajaran mengingat banyak warga kami menekuni pekerjaan serupa,” ungkap dia.