Kekurangan Siswa, SMP Kristen 4 Solo Akhirnya Tutup

Bangunan SMP Kristen Solo 4 setelah penutupan, Kamis (25/7 - 2019) (Adipriyo Argo Prabowo)
30 Juli 2019 11:00 WIB Adipriyo Argo Prabowo Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kristen 4 Solo di bawah Yayasan Perhimpunan Pendidikan Kristen Solo (PPKS) tutup pada tahun pelajaran 2019/2020 karena kekurangan siswa.

Tutupnya SMP Kristen 4 Solo menambah daftar panjang sekolah swasta yang tumbang di Kota Bengawan. Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, dalam kurun tiga tahun terakhir ada empat SMP swasta yang tutup yaitu SMP Widya Bhakti, SMP Kristen 2 Solo, dan SMP Tripusaka.

Saat Solopos.com mendatangi SMP Kristen 4 di Jl. Ahmad Yani, Tegalharjo, Jebres, Solo, pada Kamis (25/7), sekolah telah kosong. Kepala Bidang (Kabid) SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Solo, Bambang Wahyono, mengatakan SMP Kristen 4 Solo tutup mulai tahun pelajaran 2019/2020.

Ia mendapatkan pemberitahuan penutupan SMP 4 Kristen Solo secara lisan dan tertulis. “Salah satu perwakilan Yayasan ke sini menyampaikan hal itu. [Mereka] juga menyampaikan surat secara formal ke Dinas Pendidikan.” Mengenai alasan sekolah tutup, Bambang enggan menjelaskan. Dia meminta Solopos.com untuk menghubungi sekolah atau yayasan yang bersangkutan.

“Siswa SMP kristen 4 telah dipindah ke sekolah lain. Mereka dipindah ke SMP Kristen 3 Solo. Sedangkan guru-guru itu dikelola yayasan,” ujarnya saat ditemui Kamis. Semua sarana dan prasarana sekolah kembali kepada yayasan.

Sementara itu, Kepala SMP Kristen 4 Solo, Kristanto, ketika dihubungi Solopos.com mengatakan lembaganya masih dalam proses penutupan ke Dinas Pendidikan. Mengenai jumlah siswa, dia mengaku tidak banyak. “Sehingga tidak perlu dibesar-besarkan. Untuk keterangan lebih lanjut bisa ditanyakan melalui yayasan,” jelas dia.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Solo (DPKS), Joko Riyanto, mengatakan beberapa sekolah swasta yang tidak bisa bersaing akan tumbang. Sekolah-sekolah tersebut akan mati perlahan. Sekolah swasta harus bisa membenahi segala aspek penunjang. “Dengan munculnya sekolah dengan ciri khusus akan membuat sekolah swasta lainya takut, mereka takut tidak bisa bersaing,” kata dia.

Saat ini pandangan orang tua terhadap sekolah telah bergeser. Mereka tak lagi melihat rangking sekolah, tetapi melihat keterampilan yang diajarkan sekolah sehingga sekolah tersebut berbeda dibandingkan sekolah lain.