Kebakaran TPA Putri Cempo Solo Terkendali, DLH Usulkan Ini Untuk Pencegahan

Petugas dari PLN berjaga-jaga di lokasi kebakaran TPA Putri Cempo, Mojosongo, Solo, karena kebakaran terjadi di dekat kabel listrik, Senin (29/7/2019). (Solopos - Candra Mantovani)
31 Juli 2019 20:15 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Putri Cempo, Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, yang berlangsung sejak Senin (29/7/2019) mulai terkendali pada Rabu (31/7/2019) siang.

Api yang sebelumnya melahap sampah di lahan seluas 2,5 hektare telah padam, namun pendinginan masih terus dilakukan. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo, Sri Wardhani Purbowidjojo, mengatakan pendinginan tersebut bisa berlangsung lima hari hingga sepekan ke depan.

“Api sudah padam, tapi masih berasap, kemungkinan baranya masih ada. Gas metan di tumpukan sampah ini bisa memunculkan api lagi saat angin bertiup, makanya petugas tetap siaga," jelas dia kepada wartawan, Rabu.

Dhani, sapaan akrabnya, mengatakan kebakaran TPA Putri Cempo terjadi setiap tahun di musim kemarau. Kejadian tahun ini bukan yang terbesar, tapi terluas karena melahap sampah baru yang gas metannya masih tinggi, banyak rongga, atau belum benar-benar padat.

Dhani menilai kebakaran yang terus berulang membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Solo harus menemukan solusi untuk pencegahan dan penanganannya. DLH mewacanakan pembuatan sumur dalam.

Sumber air terdekat saat ini hanya sumur dalam milik Perusahaan Daerah Air Minum (Perumda) Toya Wening di Mojosongo. “Biasanya musim kemarau seperti ini petugas mengambil air di sana untuk menyirami sampah meski tidak kebarakan. Kemarin itu sudah terlanjur besar [apinya] jadi harus pakai selang bertekanan tinggi. Sumur dalam itu bisa digunakan untuk kebutuhan pemadaman,” jelasnya.

Dia memastikan kebakaran tidak berdampak terhadap persiapan pembangunan kontruksi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo. Lokasi PLTSa dengan gunungan sampah yang terbakar dipisahkan pematang yang dalam.

Dhani mengaku terus berkomunikasi dengan sejumlah warga yang tinggal tak jauh dari lokasi kebakaran, meski secara administrasi mereka adalah penduduk Karanganyar.

“Kebetulan belum ada keluhan, meski saya lihat asapnya membubung tinggi. Kami sudah antisipasi dengan bidan desa setempat untuk menyiapkan masker," jelas Dhani.

Pada kebakaran tahun lalu, warga Desa Plesungan dan Desa Jengglong, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, komplain karena asapnya sangat mengganggu.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Solo, Gatot Sutanto, mengatakan karakteristik kebakaran sampah mirip dengan lahan gambut yang bisa berlangsung berhari-hari.

Kendati begitu, sampah plastik lebih sulit dikendalikan dibanding kebakaran di lahan gambut. “Dugaan sementara penyebab kebakaran dipicu ledakan korek gas, karena warga sekitar sempat mendengar suara ledakan kecil sebelum kebakaran terjadi. Kemungkinan gas di dalamnya panas lalu terbakar, ditambah gas metan dan merambat jadilah kebakaran itu Kami masih menyuplai air untuk membantu pendinginan,” jelasnya.