Pemilik Regar Sport Wonogiri Berbagi Kisah Sukses di Depan Mahasiswa Univet Sukoharjo

Bos Regar Sport Produsen Kostum Jersey di Wonogiri, Jumariyanto, berbagi kisah inspiratif saat menjadi pembicara dalam Kuliah Tamu mahasiswa Fakultas Teknik Industri Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo di kampus setempat pada Selasa (30/7/2019). (Solopos - Indah Septiyaning W.)
31 Juli 2019 08:00 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO-Kesuksesan warga Wonogiri, Jumariyanto, membangun bisnis konfeksi Regar Sport layak menjadi inspirasi berbagai kalangan termasuk generasi muda.

Di depan mahasiswa Teknik Industri (TI) Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo dalam acara Kuliah Tamu bersama Bos Regar Sport Jumariyanto, Selasa (30/7/2019), di Gedung Lantai III Univet, pria yang akrab disapa Mas Jum ini berbagi kisah suksesnya membangun bisnis beromzet miliaran rupiah.

Pria kelahiran Wonogiri 9 Juni 1981 ini mengaku kesuksesannya bermula dari mimpi hingga kini dia menahkodai 4.000-an lebih reseller di seluruh Indonesia.
Bos Regar Sport itu bercerita mengenai mimpinya ingin memiliki mobil Mitsubishi Pajero pada 2015 lalu. Dua tahun berselang mobil impiannya terparkir di garasi rumah. Kini dia juga membeli Toyota Alphard, Mini Cooper, dan mobil lainnya.

"Hari ini saya ingin nyenggol generasi muda-muda untuk mengubah mindset agar terusik untuk berbisnis. Dengan bisnis kita bisa bermimpi tak terbatas, tapi kalau menjadi pegawai mimpi kita terbatas," tuturnya.

Dia pun mencontohkan kondisinya yang memutuskan pensiun dini sebagai aparatur sipil negara (ASN) pada Februari 2019 lalu. Padahal 20 tahun sudah mengabdi sebagai abdi negara kala itu menjabat sebagai kepala seksi (kasi) dengan jabatan eselon IV. Kemudian sang istri yang merupakan guru sekolah menengah atas (SMA) dengan gaji plus tunjangan sertifikasi menyusul langkahnya untuk fokus menggeluti bisnis konfeksi tersebut.

"Jika masih sebagai ASN mimpi kita hanya terbatas, misal untuk punya mobil Pajero saja nanti sudah dituding korupsi. Jadi kami berdua memilih pensiun dini dan fokus dalam berbisnis," katanya.

Menurut Jumariyanto, mimpi harus dinyatakan secara eksplisit, terukur, dan pemimpi harus berusaha memperpendek jarak mimpinya dengan kenyataan. Regar Sport sendiri mulai dirintis sejak 2012. Saat itu dia menjalani bisnis secara sendiri dengan embrio sebagai reseller produk-produk olahraga. Bentuk usaha berupa dagang online atau memanfaatkan media daring.

"Waktu itu menjalani bisnis dengan bermodal HP saya sendiri. Jadi kerja sebagai ASN juga sambil menjalankan bisnis. Kemudian berkembang dan kewalahan, mulailah dari situ saya merekrut satu karyawan," katanya.

Omzet saat itu cukup fantastis bisa mencapai Rp130 juta per bulan. Namun lantaran menjadi reseller angka keuntungannya hanya menerima sebesar 5-10 persen.

Dari sinilah dia mulai berpikir untuk membangun usaha mandiri, yakni memproduksi kostum jersey. Usahanya ini terus berkembang dari tahun ke tahun. Bahkan omzetnya mencapai miliaran rupiah per bulan.

"Sekarang ada 250 agen Regar Sport dan 4.000 reseller kami di seluruh Indonesia. Dari kelas usaha rintisan dan berkembang menjadi usaha besar," katanya.
Dia berharap para generasi muda untuk tak patah semangat dalam menghasilkan sesuatu.

Apalagi bisa bermanfaat bagi semua orang. Dia pun menginginkan para generasi milenial untuk memiliki mimpi yang tinggi dan diraih dengan penuh capaian.

"Bermimpilah dengan mata terbuka, artinya lakukan dan kerjakan sehingga apa yang diimpikan tercapai," katanya.

Salah satu mahasiswa TI Univet Bangun Nusantara Sukoharjo, David S., mengaku mengagumi sosok Jumariyanto yang mau melepas zona nyaman untuk menggapai mimpi berbisnis konveksi. Kisahnya dinilai sangat menginspirasi bagi kalangan muda seperti dirinya.

"Sangat inspiratif sekali bagi saya dan teman-teman generasi muda lainnya. Bahwa dengan ini kami harus bermimpi dan mencapai mimpi itu," katanya.