2 Calo CPNS Kementerian Ditangkap Polres Karanganyar

Polres Karanganyar menunjukkan dua calo penerimaan CPNS kementerian yang ditangkap, Rabu (31/7/2019). (Solopos - Sri Sumi Handayani)
31 Juli 2019 19:15 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Satuan Reskrim Polres Karanganyar menangkap dua calo perekrutan calon pegawai negeri sipil (CPNS). Keduanya yakni Martini Sembiring, 50, warga Jaten, Karanganyar, dan Agus Sapto Raharjo, 50, warga Solo.

Keduanya kini mendekam di tahanan Mapolres Karanganyar. Kasus itu terungkap setelah salah satu korban penipuan melapor ke Polres Karanganyar pada 1 Oktober 2018 lalu. Korban tersebut bernama Susilowati, warga Jaten, Karanganyar.

Susilowati mengaku sudah menyetorkan uang senilai Rp270 juta yang diminta kedua pelaku dengan tujuan memasukkan dua anaknya menjadi CPNS di kementerian.

Berdasarkan pengakuan Susilowati kepada polisi, kejadian berlangsung Desember 2017 hingga Maret 2018. Selama itu, Susilowati sudah menyetorkan sejumlah uang kepada dua tersangka melalui sejumlah transaksi.

Transaksi itu ada yang nilainya Rp150 juta, Rp50 juta, Rp20 juta, Rp4 juta, Rp3 juta, dan Rp700.000. Penyetoran dibuktikan dengan kuitansi. Salah satu kuitansi bermeterai Rp6.000.

Pembayaran dilakukan untuk sejumlah tujuan, yakni memasukkan dua anak Susilowati menjadi tenaga honorer di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada 2017 dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional pada 2017.

Selain itu Susilowati menyetorkan uang untuk pengajuan dana hibah mendirikan pondok pesantren dan mengambil dana zakat dari salah satu anak mantan pejabat di Indonesia.

Kapolres Karanganyar, AKBP Catur Gatot Efendi, menyampaikan korban penipuan yang dilakukan kedua tersanga berasal dari sejumlah wilayah. Tetapi baru satu orang yang melapor ke polisi.

"Kalau ada orang lain yang merasa menjadi korban dua tersangka tersebut kami persilakan untuk melapor ke Polres Karanganyar," kata Kapolres saat menggelar jumpa pers di Aula Jananuraga Polres Karanganyar, Rabu (31/7/2019).

Dari tangan tersangka, polisi sudah menyita barang bukti sejumlah berkas, seperti fotokopi surat pemberitahuan tenaga honorer Kementerian PUPR tertanggal 23 Maret 2018, fotokopi surat pemberitahuan tenaga honorer Kementerian PPN tertanggal 23 Maret 2018, surat pengajuan dana hibah Rp30 miliar atas nama salah satu korban, surat pengajuan dana hibah Rp30 miliar atas nama korban lain, dan kuitansi pembayaran uang kepada tersangka.

Modus kedua tersangka yakni menawarkan bantuan mencarikan dana hibah untuk mendirikan pondok pesantren senilai Rp60 miliar dan bisa memasukkan seseorang menjadi CPNS tetapi dengan imbalan sejumlah uang.

Untuk meyakinkan calon korbannya, Martini membuat e-KTP palsu atas nama Murtiningsih. Dia juga membuat surat palsu untuk meyakinkan korban bahwa pelaku sudah berhasil memasukkan orang menjadi pegawai di kementerian.

Selain itu, dia mengajak korban ke Jakarta untuk menemui orang yang disebut sebagai pemilik dana hibah untuk mendirikan ponpes.

"Tersangka mengajak korban ke Jakarta katanya menemui pemilik dana hibah tetapi tidak pernah ketemu dengan alasan sibuk rapat. Dia juga menipu korban untuk mendapatkan dana zakat tetapi harus menyetorkan Rp4 juta ditukar menjadi Rp50 juta," jelas Kapolres.

Kapolres menyampaikan semua janji tersangka tidak ada yang terealisasi. Korban melaporkan hal itu ke Satuan Reskrim Polres Karanganyar. Martini dan lelaki yang diakui sebagai suaminya, Agus, ditangkap di salah satu gedung badminton di Pasar Kliwon, Solo, Kamis (25/7/2019) pukul 22.30 WIB.

Sementara itu, Martini, mengaku sudah menggunakan uang korban untuk membayar utang dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dua tersangka itu hanya bisa tertunduk saat Kapolres menjelaskan seluruh perbuatan mereka kepada wartawan.