Gibran Rakabuming Disarankan Tunggu Jokowi Selesai, Seperti AHY

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo (kiri), beserta istri, Elizabeth Endang Prasetyaningsih, memasukan surat suara seusai menggunakan hak pilih di TPS 16, Pucangsawit, Jebres, Solo, Rabu (27/6 - 2017). (Solopos/Nicolous Irawan)
01 Agustus 2019 15:31 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Solo, FX Hadi Rudyatmo, menyarankan Gibran Rakabuming Raka menunggu ayahnya, yakni Presiden Joko Widodo (Jokowi), menyelesaikan jabatannya. Dia menyarankan Gibran tidak terburu-buru terjun ke kancah politik.

Rudy, sapaan akrabnya, mencontohkan anaknya yang tiga kali menolak dicalonkan sebagai anggota legislatif karena dirinya masih menjabat sebagai Ketua DPC sekaligus Wali Kota Solo. Padahal, kata dia, tidak ada larangan untuk mencadi caleg.

“Padahal saya tidak melarang. Dia sendiri yang tidak mau. ‘Menang pun, tetap dikira dimenangkan bapak,’ begitu katanya. Mas AHY [Agus Harimurti Yudhoyono] juga begitu. Nunggu bapaknya lengser dulu, baru muncul,” kata Rudy di Solo, Rabu (31/7/2019).

Rudy, sapaan akrabnya, mengatakan pencalonan Gibran Rakabuming sebagai bakal calon (balon) Wali Kota Solo 2020 dikhawatirkan memunculkan persepsi negatif di tengah masyarakat. Masalahnya, dirinya belum berpengalaman.

“Kalau menurut saya, Mas Gibran belajar dulu lah. Menjadi kepala daerah itu bukan jabatan yang mudah dan perlu pengalaman cukup. Sekarang kita bantu bapak [Jokowi] sampai selesai [menjabat] dulu. Setelah itu ayo bareng-bareng berkiprah di politik,” kata dia.

Politikus senior PDIP Solo itu menilai Gibran masih perlu banyak belajar. Di antaranya tentang sistem kepartaian, pemerintahan, dan kemasyarakatan. 

Rudy mengingatkan popularitas bukan jaminan berhasil menjadi seorang pemimpin. Seorang Wali Kota butuh keterampilan mengelola aspirasi masyarakat dan berbagai kelompok yang ada di dalamnya. Terlebih, berbicara mengenai kesejahteraan rakyat yang tidak lagi berdasarkan kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan.

“Berpolitik tidak harus identik dengan politik elektoral. Terjun langsung ke tengah masyarakat tanpa membawa agenda politik jauh lebih penting. Politik itu juga seni mengelola aspirasi. Tidak harus lewat parpol,” kata dia.

Meskipun begitu, Rudy mengaku saran tersebut bukan berarti menolak pencalonan Gibran Rakabuming sebagai  balon Wali Kota. Dia menegaskan sesuai perundang-undangan yang berlaku, setiap warga negara berhak mencalonkan dan dicalonkan menjadi kepala daerah. Namun pencalonan lewat partai, khususnya PDIP, wajib melalui mekanisme yang berlaku.

“Mau dari partai lain boleh, independen boleh, dari PDIP juga boleh sepanjang mekanisme dilalui,” kata dia.