REI Jateng Ajukan Penambahan Kuota Subsidi KPR

ilustrasi perumahan komersial. (Solopos/Dok)
02 Agustus 2019 10:55 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Provinsi Jawa Tengah menyambut baik kebijakan baru Bank Indonesia yang memangkas suku bunga acuan atau BI 7days reverse repo rate sebesar 25 basis poin atau 0,25%.

Penurunan bunga ini bakal mendorong turunnya suku bunga kredit termasuk bunga kredit perumahan rakyat (KPR). Meski skala penurunan suku bunga acuan terbilang kecil, aturan baru itu bakal mempermudah masyarakat untuk mengakses KPR.

Ketua DPD REI Jateng, Prijanto, mengapresiasi kebijakan penurunan suku bunga acuan meski angkanya terbilang kecil. Namun pihaknya belum mengetahui aturan itu secara langsung dari perbankan. Dia berharap kebijakan tersebut segera terealisasi.

“Kami senang akan kabar ini. Tentunya ini bakal mempermudah mulai dari bunga kredit KPR untuk masyarakat, kredit konstruksi, hingga pembebasan lahan. Kalau dari sektor perbankan nantinya seperti apa, kami belum mendengar,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (31/7/2019).

Prijanto memaparkan penurunan suku bunga bakal membantu masyarakat untuk memperoleh KPR, khususnya komersial. Menurutnya, suku bunga KPR komersial masing-masing bank berbeda-beda tergantung program. Namun demikian, suku bunga perbankan ada di kisaran 9% - 11%. Sementara sistemnya juga variatif, yakni bunga floating atau bunga fixed.

Di sisi lain, pihaknya mencatat tren penjualan KPR komersial dalam tiga bulan pertama pada 2019 terbilang turun. Namun demikian, kini grafiknya menunjukkan peningkatan.

Sebagai contoh, target penjualan perumahan sebanyak 50 unit setiap pameran di Jateng terpenuhi. Ini khususnya untuk KPR komersial dengan harga mulai Rp300 juta hingga Rp700 juta. Sementara tahun lalu sebanyak 2.000 unit KPR komersial laku saat pameran REI di berbagai wilayah di Jateng. Dalam 1 tahun biasanya pihaknya menggelar sebanyak 10 kali pameran.

“Sebenarnya yang menjadi masalah adalah KPR bersubsidi. Kami kesulitan menjual karena kuota subsidi KPR dari pemerintah nyaris habis sejak Juni lalu. Kami sudah mengajukan penambahan kuota,” imbuhnya.

Prijanto menambahkan tahun ini pihaknya mengajukan KPR bersubsidi sebanyak 11.500 unit di Jateng. Sementara hingga Juli ini baru terealisasi sebanyak 4.000 unit. Namun demikian, penjualan KPR bersubsidi belum bisa dilanjutkan lantaran kuota bantuan dari pemerintah tinggal hitungan jari. Padahal rumah atau lahan sudah tersedia, begitu juga dengan pembeli.

Di samping itu, lahan ini tersedia di banyak wilayah di Jateng. Akan tetapi, untuk kota-kota tertentu tanah untuk KPR masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tak memungkinkan lagi. Hal ini lantaran harga tanah yang kian mahal.

Sesuai ketentuan, harga rumah bersubsidi untuk Jawa (kecuali Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) sebesar Rp140 juta pada 2019, sementara bunga kredit sekitar 5%.

Sebelumnya, KPR di Soloraya diprediksi bakal tumbuh dua digit menyusul kebijakan baru Bank Indonesia yang memangkas suku bunga acuan.

Assistant Vice President Pemimpin Bidang Pemasaran Bisnis BNI Cabang Slamet Riyadi Solo, Lusiana Sulistyowati, mengatakan KPR menunjukkan tren kenaikan dari bulan ke bulan. Menurutnya, KPR tetap tumbuh meski suhu politik memanas di awal tahun ini. Hal itu dibuktikan dengan masih banyaknya permintaan KPR khususnya di segmen menengah ke bawah atau KPR bersubsidi.