Asap Kebakaran TPA Putri Cempo Solo Ganggu Warga Plesungan Karanganyar

Siswa SDN 2 Plesungan, Desa Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, memakai masker di sekolah, Jumat (2/8/2019). (Solopos - Wahyu Prakoso)
02 Agustus 2019 16:15 WIB Wahyu Prakoso Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Asap dari kebakaran sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo, Solo, Senin (29/7/2019), mengganggu aktivitas warga Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar.

Angin yang berembus ke arah utara membuat Desa Plesungan dipenuhi asap. Asap tersebut bahkan sampai masuk ke dalam ruangan kelas SDN 2 Plesungan. "Ini [asap] akan berbulan-bulan," kata Guru Kelas X SD tersebut, Nur Tyas , 34, Jumat (2/8/2019).

Pagi itu pukul 08.50 WIB, Nur Tyas sedang memeriksa tugas mata pelajaran Matematika di depan ruang kelas. Kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasanya.

“Asap banyak pas menjelang Magrib. Pada pagi hari ketika membuka kelas banyak asapnya. Kalau siang secara kasatmata asap tidak terlihat,” kata Nur kepada Solopos.com.

Dia mengatakan sekolah mendapatkan bantuan masker dari Puskesmas setelah terjadi kebakaran. Namun, hanya sebagian siswa yang mau memakai masker.

“Mungkin gak nyaman dan sudah terbiasa menghirup bau sampah dan asap,” ungkapnya.

Pantauan Solopos.com, beberapa siswa SD tersebut memang tidak memakai masker. Sedangkan yang memakai masker sesekali melepas masker tersebut karena tak nyaman.

Siswa kelas III, Saras dan Tere, keluar kelas dengan masker terpasang menutup hidung dan mulut. Mereka lalu berjalan menuju selatan dan berdiri di utara pagar sekolah memandang jauh ke TPA Putri Cempo yang masih mengeluarkan asap tebal.

“Sejak dari rumah saya pakai masker,” ungkap Saras.

Saras tinggal di Dusun Sulurejo. Rumah yang ia tinggali terkena asap dari dampak kebakaran TPA. Wilayah Plesungan memang berbatasan langsung dengan lahan TPA Putri Cempo Solo. Sesekali ia menurunkan masker yang ia pakai karena tidak nyaman.

Kepala SDN 2 Plesungan yang habis massa jabatannya, Rabu (31/7/2019), Sukatno, menjelaskan setiap tahun terjadi kebakaran pada TPA Putri Cempo. Kebakaran Senin lalu merupakan kebakaran pertama pada tahun ini.

“Asap dari TPA mengganggu kegiatan belajar mengajar. Kali ini tidak separah kebakaran tahun lalu. Waktu itu saya datang ke sekolah pukul 06.30 WIB. Namun kemudian saya pulangkan siswa dan meliburkan pada keesokan harinya karena kondisi sekolah gelap kena asap,” ujarnya.

Di teras kelas salah satu orang tua siswa, Kristina, 48, menunggu anaknya pulang. Di rumahnya tidak terkena asap tetapi ia selalu mengingatkan anaknya agar memakai masker dari rumah. “Untungnya enggak full day [sekolah],” katanya.

Kebakaran TPA yang terjadi Senin lalu tidak hanya mengganggu aktivitas belajar mengajar. Warga sekitar di bagian utara TPA mengalami dampak dari kebakaran tersebut.

Salah satu warga Sulurejo RT 006/RW 009 Plesungan, Safitri, memiliki anak bawah tiga tahun yang sering batuk ketika menghirup asap. “Asap banyak menjelang Magrib. Di sini banyak bayi. Para orang tua hanya pasrah karena tidak punya tempat untuk mengungsi. Solusinya dengan menutup semua lubang ventilasi rumah supaya asap tidak masuk,” katanya.

Dia mengatakan saat terjadi kebakaran asap hitam menjulang tinggi. Saat itu, banyak siswa SDN 2 Plesungan yang melihat kebakaran itu. Lalu pada malam hari setelah kebakaran, Kepala Dusun setempat memberikan masker kepada seluruh warga.