Cucu Pertahankan Cita Rasa Kuliner Wonogiri Ayam Panggang Mbok Tiyem

Menu ayam panggang di Warung Makan Ayam Panggang Wahana Cucu Mbok Tiyem di Rejosari RT 001 - RW 005, Ngadirojo Kidul, Ngadirojo, Wonogiri atau dekat pool Bus Putera Mulya. (Solopos/Rudi Hartono)
03 Agustus 2019 17:00 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Mbok Tiyem menjadi pioner yang melahirkan kuliner khas Wonogiri, Jawa Tengah, yakni ayam panggang Mbok Tiyem. Ayam panggang buatan Mbok Tiyem pada masa lampau hanya bisa dinikmati sebagian kecil warga kawasan kota Wonogiri.

Pada masa itu, Mbok Tiyem menjual ayam panggang dengan berjalan kaki berkeliling menggunakan senik atau tenggok. Seiring berjalannya waktu, Mbok Tiyem membuka warung makan di Jatisrono. Orang yang ingin menikmati ayam panggang Mbok Tiyem pun rela pergi ke Jatisrono.

Kemudian sekitar 2004 atau 2005, Mbok Tiyem meninggal dunia dan sahanya diteruskan anak pertamanya, Satinem. Setelah Satinem meninggal dunia pada 2007, warung makan dikelola kerabat Mbok Tiyem hingga sekarang.

Satinem juga memiliki anak yang memiliki komitmen menjaga kuliner Wonogiri warisan Mbok Tiyem. Dia lah Mulyani. Perempuan 41 tahun itu membuka Warung Makan Ayam Panggang Wahana Cucu Mbok Tiyem di Rejosari RT 001/RW 005, Ngadirojo Kidul, Ngadirojo, Wonogiri atau dekat pool Bus Putera Mulya sejak 2010. Nama Wahana diambil dari nama suami Mulyani, Wahana yang saat ini berusia 47 tahun.

Cucu Mbok Tiyem, Mulyani (Solopos-Rudi Hartono)

Foto : Mulyani, 41, cucu Mbok Tiyem. (Solopos-Rudi Hartono)

Saat ditemui solopos.com di warung miliknya, Selasa (30/7/2019), Mulyani mengaku mengetahui cara memasak dan resep bumbu ayam panggang dari mendiang ibu dan neneknya, Mbok Tiyem. Setelah lulus SMA, Mulyani membantu memasak di warung di Jatisrono selama bertahun-tahun.

Setelah ibunya, Satinem, meninggal dunia Mulyani berinisiatif membuka warung makan bersama suaminya. Selain untuk menambah pendapatan, langkahnya itu untuk menjaga dan melestarikan kuliner warisan Mbok Tiyem yang sudah dikenal masyarakat luas.

“Cara memasak dan bumbu yang saya gunakan sama dengan cara memasak dan bumbu yang digunakan nenek dulu. Semua masih saya pertahankan. Ayamnya pakai ayam jawa. Kalau soal rasa tentu punya cita rasa masing-masing, karena beda tangan [yang memasak] akan beda rasa masakannya,” kata ibu dua anak itu.

Mulyani menceritakan ayam dipanggang dengan cara, pertama memanaskan kuali terlebih dahulu dengan api hasil pembakaran kayu yang keras, seperti kayu trembesi. Setelah kuali bagian bawah menjadi bara, ayam utuh dimasukkan lalu kuali ditutup selama 10-15 menit.

Pada proses itu ayam dibalik-balik agar matang secara merata. Selanjutnya ayam diangkat. Jika ada order dari pembeli, ayam baru diberi bumbu lalu dipanggang lagi selama lebih kurang lima menit. Pada pemanggangan tahap dua itu ayam juga dibalik-balik. Lalu ayam siap dihidangkan.

“Ayam disajikan bersama sambal terasi, lalapan, gudangan daun pepaya, sayur kacang tholo kering, dan lalapan. Minumnya sesuai selera. Satu ayam utuh kami jual Rp70.000. Kalau paket kecil, ¼ bagian, cukup Rp18.000/porsi. Itu belum termasuk nasi Rp4.000/porsi dan minuman Rp3.000-Rp4.000/gelas,” ucap Mulyani.

Solopos.com berkesempatan mencicipi masakan Mulyani. Tekstur daging ayam terasa lembut. Rasa dan aromanya khas ayam panggang. Permukaan daging yang sedikit gosong menciptakan sensasi rasa tersendiri. Saat disantap bersama nasi dan sambal terasi yang pedas, rasanya nikmati. Terlebih jika makannya dengan cara dipuluk atau menggunakan tangan. Gudangan daun singkong dan sayur kacang tholo kering menambah kenikmatan.