Tak Tahan Bau Limbah, Warga Ngipang Solo Jual Rumah

Ilustrasi sungai tercemar sampah dan limbah. (Solopos - dok)
05 Agustus 2019 16:15 WIB Kurniawan Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Bau limbah Kali Pleret di Kampung Ngipang, Kadipiro, Banjarsari, Solo, membuat warga sekitar tak betah. Beberapa dari mereka bahkan sudah ada yang menawarkan rumahnya untuk dijual saking tidak tahannya dengan bau busuk limbah.

Salah seorang warga tersebut, Akhmad Saifudin, warga RT 008/RW 028, Ngipang, Kadipiro, mengaku sejak beberapa pekan terakhir menawarkan rumahnya yang hanya berjarak 10 meter dari Bendung Sungai Pleret kepada kenalan dan koleganya.

“Iya, sudah saya tawarkan untuk dibeli tapi belum ada yang mau,” aku dia Bau limbah Kali Pleret di Kampung Ngipang, Kadipiro, Banjarsari, Solo, membuat warga sekitar tak betah. Beberapa dari mereka bahkan sudah ada yang menawarkan rumahnya untuk dijual saking tidak tahannya dengan bau busuk limbahsaat ditemui Solopos.com di rumahnya belum lama ini.

Akhmad dan keluarganya sudah tidak betah mencium bau limbah yang mencemari Sungai Pleret. Dia berencana pindah ke wilayah Karanganyar bila rumahnya sudah terjual.

Kebetulan tempat tinggalnya saat ini cukup dekat dengan wilayah Karanganyar. Bagi dia dan keluarganya, hidup sehat tanpa bau limbah lebih penting.

“Sebenarnya saya dan beberapa warga sudah mengadukan masalah pencemaran limbah ini ke dinas terkait. Bahkan sudah ada yang mengambil sampel air sungai dan legislator DPRD Solo sudah pernah melakukan sidak,” imbuh dia.

Namun lantaran sumber bau tidak enak diduga kuat berasal dari wilayah Boyolali dan Karanganyar, upaya penyelesaian masalah tak kunjung mencapai titik temu. Akibatnya warga dekat sungai yang menjadi korban.

Pantauan Solopos.com, saking geramnya dengan perilaku membuang limbah kotoran babi ke sungai, warga Ngipang memasang MMT peringatan di pinggir Sungai Pleret. MMT itu bertuliskan seruan agar tidak membuang limbah sembarangan.

Terpisah, Sekretaris Komisi II DPRD Solo, Janjang Sumaryono Aji, saat dimintai tanggapan Solopos.com, mengatakan persoalan serupa terjadi di Kali Jenes yang membuat warga Pajang, Laweyan, sangat terganggu bau tidak sedap.

Namun setelah dilakukan pendekatan antarwilayah, persoalan tersebut bisa diselesaikan. “Sumber masalah dari Sukoharjo. Tapi akhirnya mereka sudah mengubah IPAL nya. Mungkin yang di Ngipang permasalahannya sama,” kata dia.

Politikus PDIP tersebut meminta warga bersabar menunggu upaya penyelesaian yang sedang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo. Penyelesaian masalah yang melibatkan dua kabupaten/kota tidak bisa instan.

“Yang bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan cepat menurut saya Gubernur. Dinas kirim surat kepada Gubernur agar difasilitasi untuk penyelesaian masalah. Bila ada campur tangan Gubernur bisa cepat selesai,” sambung dia.