Ini Kata Sejarawan Soal Taman dan Keragaman Pohon di Mangkunegaran Solo

Pengunjung berfoto di bawah pohon sakura di Kompleks Mangkunegaran, Solo. (Solopos - Mahardini Nur Afifah)
05 Agustus 2019 22:15 WIB Mahardini Nur Afifah Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Selain pohon bungur yang berbunga mirip sakura Jepang, Pura Mangkunegaran Solo juga menjadi rumah bagi beberapa tanaman unik. Dahulu di sebelah barat pendapa utama, terdapat pohon kalpataru.

Namun sayang, tanaman tersebut mati ketika taman tengah dalam perbaikan. “Dulu pengunjungnya juga heboh. Banyak yang penasaran kayak bungur sekarang,” beber Pelaksana Tugas (Plt) Pengageng Mondropuro Istana Mangkunegaran, Supriyanto Waluyo, kepada Solopos.com, belum lama ini.

Ada juga pohon beringin kurung yang hingga kini masih lestari memayungi area sekitar pendapa ageng istana. “Kalau di keraton Jawa umumnya, ringin kurung ditanam di alun-alun. Tapi karena ini keraton alit, posisi menanamnya juga tidak di halaman depan yang mirip alun-alun. Ini di bagian dalam istana.”

Pantauan Solopos.com, pohon bungur berbunga mirip sakura tersebut tampak menonjol dibandingkan tanaman lain seperti jati merak dan beringin yang sebagian daunnya mulai mengering di pelataran itu. Kehadiran pohon yang berbunga setahun sekali saban Juni-Agustus itu juga memberikan warna di tengah hiruk-pikuk padatnya lalu lintas akhir pekan jantung Kota Bengawan.

Sejarawan Solo Heri Priyatmoko menuturkan taman dan tanaman warisan Pura Mangkunegaran merupakan bentuk komitmen istana pada lingkungan. Selain itu juga menjadi penanda bagian dinamika istana.

“Keindahan taman milik Pura Mangkunegaran bisa dilacak dari dokumen sejarah bagaimana dulu Gusti Noeroel [putri KGPAA Mangkunagoro VII] suka bermain di taman bunga kompleks istana. Selain itu juga ada peninggalan taman Balekambang sebagai ruang terbuka hijau di tengah kota,” jelasnya.

Selain itu, Heri menyebut komitmen tinggi istana pada dunia flora juga ditunjukkan lewat keberadaan petetan atau abdi dalem khusus merawat tanaman pada periode emas masa pemerintahan Mangkunagoro IV sampai VII.

“Fenomena petetan ini kini jadi nama kampung di sekitar Pura Mangkunegaran. Kemunculannya pada masa kejayaan istana. Mereka dibekali skill khusus. Posisi juru taman ini dianggap penting. Enggak sekadar menyapu atau menyiram tanaman,” ujar dia.

Menurut Heri, pentingnya keberadaan tumbuhan oleh istana sesuai filosofi Jawa sedulur sinarawedi. Dalam falsafah tersebut alam ibarat “saudara” dan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

“Ringin misalnya jadi tetenger. Dulu kalau orang desa menikah, harus menanam pohon kelapa. Ini bukti bagaimana kultur kita mewariskan ilmu hidup harmonis dengan alam. Bagaimana tumbuhan sudah memberikan buah, daun, oksigen, dan sebagainya tanpa pernah meminta imbalan,” kata dia.