Jalan Terjal Warga Jenar Sragen Dapatkan Air Bersih

Sejumlah warga dan tim BPBD melihat debit air di dalam sumur yang berkurang setelah disedot ke tandon air saat survei air bersih untuk mengatasi krisis air di Dusun Dukuh RT 015, Desa/Kecamatan Jenar, Sragen, Jumat (2/8/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
05 Agustus 2019 08:30 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Sumur dari bis beton itu terletak di Dusun Dukuh RT 015, Desa/Kecamatan Jenar, Sragen. Diameternya 80 cm dan berada di tengah lahan kas desa.

Sumur itu berkedalaman kurang dari 10 meter. Tinggi permukaan airnya 5,7 meter dari dasar sumur. Sementara permukaan sumur hingga permukaan tanah hanya berjarak 3 meter.

Kebun jagung dan kebun tebu mengelilingi sumur yang terletak sekitar 300 meter dari permukiman penduduk itu. Mobil tidak bisa masuk ke lokasi. Sepeda motor pun sulit masuk.

Jalan menuju sumur itu bukanlah jalan umum tetapi kebun dengan bebatuan terjal dan menyusuri pekarangan penduduk serta menerobos rerimbunan pohon bambu. Butuh perjuangan cukup keras untuk menuju ke sumur itu.

Namun, sumur itu lah yang menjadi sumber air bersih bagi lingkungan RT 014-015 Dusun Dukuh, Desa Jenar. Mau tak mau warga harus menempuh jalan terjal itu demi mendapatkan air bersih.

Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen dipimpin Kepala Pelaksana BPBD Sragen Sugeng Priyono datang untuk survei debit air pada Jumat (2/8/2019). Tim BPBD yang terdiri atas tujuh orang dibantu warga setempat membawa mesin pompa air, selang, terpal, jeriken berisi bahan bakar, dan tandon air warna biru berkapasitas 2.800 liter.

Dua orang petugas dari Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN Surakarta, Kepala Desa Jenar Sugiyanto, dan pejabat Kecamatan Jenar ikut mendampingi. Tandon air berdiamater 3 meter dan tinggi 2 meter dibawa beramai-ramai oleh anggota BPBD dan warga setempat.

Tandon tersebut diletakkan dekat sumur. Selang dimasukkan ke sumur dan disambungkan ke mesin pompa air. Mesin pompa itu pun dihidupkan dan air memancar dari mesin pompa dan diarahkan ke tandon air tersebut.

“Tandon diisi penuh untuk melihat debit air di sumur itu,” seru Sugeng.

Setelah air disedot ke tandon, kedalaman permukaan air turun 3 meter dari posisi semula. Permukaan air itu kemudian terus naik perlahan-lahan seiring bertambahnya air dari sumber air di bawahnya.

“Dengan debit air yang ada, kami meyakini ini memungkinkan untuk diangkat ke permukiman. Teknisnya nanti ada pemasangan mesin listrik penyedot air untuk mendorong air ke dua tandon induk di musala. Jaraknya 300 meter dan ketinggiannya sekitar 30 meter karena permukaan tanah di sumur menjorok ke bawah dengan ketinggian 30 meter dari permukaan tanah di permukiman penduduk,” ujar Sugeng saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat siang.

Sugeng menyerahkan teknisnya kepada warga sekitar dan disaksikan Kades Jenar Sugiyanto. Sementara dua petugas YBM PLN Surakarta melihat langsung penjajakan debit air dan sepakat dengan ide BPBD.

“Kami akan membiayai dengan dana YBM senilai Rp50 juta. Dana tersebut merupakan dana zakat dari karyawan PLN. Pelaksanaannya bisa Agustus ini agar air segera bisa dinikmati masyarakat,” ujarnya.

Seorang warga Dukuh RT 015, Sugiyanto, 39, mengatakan sebenarnya ada tiga sumur di wilayah RT 014 dan RT 015. Dari ketiga sumur itu, Sugiyanto menyebut hanya sumur di lahan kas desa itu yang paling besar debit airnya.

Warga sekitar menggantungkan kebutuhan air bersih ke sumur itu saat puncak musim kemarau September-Oktober nanti. “Sekarang masih memungkinkan dengan sumur yang dekat tetapi sebagian sudah mulai mengangsu air ke sumur ini. Sebulan lagi kalau tidak ada hujan, sumur ini bakal diserbu warga,” tambahnya.

Sumur itu rencananya digunakan untuk 186 keluarga di RT 014 dan RT 015 Dukuh, Jenar, Sragen. Di RT 015 terdapat 89 keluarga dan di RT 016 ada 97 keluarga.