Dikhawatirkan Kena Tol Solo-Jogja, Cagar Budaya Klaten Didata

Seorang warga menunjukkan yoni di tengah sawah wilayah Desa Ngabeyan, Karanganom, Klaten, belum lama ini. (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
05 Agustus 2019 09:30 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Proyek pembangunan jalan tol Solo-Jogja dikhawatirkan akan berdampak menggusur benda cagar budaya (BCB) di wilayah Klaten.

Terkait itu, Klaten Heritage Community (KHC) atau komunitas peduli cagar budaya Klaten mendata BCB yang tersebar di berbagai tempat di Klaten. Komunitas berharap proyek tol tak melewati kawasan situs yang masih terpendam serta tak merusak BCB.

Anggota KHC bidang Litbang, Kristian Apriyanta, mengatakan pendataan berdasarkan informasi yang diterima komunitas soal desa-desa yang bakal terdampak proyek tol Solo-Jogja. Selama ini belum ada informasi resmi soal daerah yang dipastikan bakal dilintasi proyek jalan bebas hambatan tersebut.

“Dari hasil perkiraan sementara, banyak desa yang di dalamnya ada situs terdampak proyek tol. Makanya, kami lakukan pendataan,” kata Apriyanta saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu (4/8/2019).

Apriyanta menuturkan pendataan perlu dilakukan. Apalagi, banyak benda cagar budaya di Klaten yang selama ini belum terdata oleh pemerintah. KHC khawatir jika tak didata secara detail, situs serta BCB di Klaten bakal rusak hingga salah urus.

“Kami lakukan antisipasi saja karena saat ini daerah yang terdampak proyek tol belum ada kepastian. Kalau misalkan sudah jelas, kami akan sampaikan rekomendasi ke dinas terkait dan BPBC agar menjadi perhatian dalam proses pembangunan jalan tol nanti agar benda cagar budaya tidak rusak,” ungkap dia.

Apriyanta menjelaskan KHC merupakan komunitas independen di bawah binaan Seksi Sejarah Purbakala Disparbudpora Klaten. Selain pendataan, KHC kerap menggelar aksi bersih-bersih kawasan situs di Klaten.

Anggota KHC bidang Humas dan Publikasi, Hary, menjelaskan pendataan didasarkan data desa terdampak rencana proyek tol yang selama ini sudah beredar. Sejumlah desa yang terdapat situs serta BCB bakal terdampak tol.

Desa-desa itu di antaranya tersebar di wilayah Kecamatan Delanggu, Polanharjo, Karanganom, Ngawen, serta Kebonarum.

“Memang belum diketahui dari mana asal informasi desa-desa yang bakal terdampak proyek tol itu. Namun, kami tetap antisipasi kemungkinan apabila rencana proyek tol sesuai data yang kami terima. Ada nama desa-desa yang masuk dalam data tersebut dan di desa itu terdapat BCB baik berupa situs yang diduga masih terpendam atau situs lepas atau temuan yang tampak di permukaan tanah,” katanya.

Pendataan BCB sudah dilakukan KHC jauh hari sebelum isu proyek tol Solo-Jogja melewati Klaten mencuat. Pendataan kian diintensifkan ketika muncul data nama-nama desa yang berpotensi terdampak proyek tol.

“Pendataan ini menginvetarisasi peninggalan bersejarah di Klaten. Dengan data itu, kami bisa ikut mengawasi keadaan BCB dan apabila keadaan BCB perlu penanganan segera, kami bisa langsung meneruskan ke Disparbudpora Klaten atau BPCB Jateng,” kata Hary.

Hary mengatakan BCB atau situs bersejarah di Klaten beragam dari yang tampak atau berada di permukaan tanah maupun yang masih terpendam. Dia mencontohkan fragmen Makara di Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum.

Makara itu diperkirakan bagian dari struktur candi yang masih terpendam. “Sejak awal 2018 kami mendata dan tercatat ada 150-an situs tersebar di Klaten. Sebagian besar situs belum diregister oleh dinas,” katanya.

Disinggung rencana proyek jalan tol Solo-Jogja, Hary mengatakan KHC tetap mendukung program pemerintah tersebut. Hanya, dia memberikan catatan agar pelaksanaan proyek tersebut tak melewati kawasan-kawasan situs di Klaten yang selama ini masih terpendam.

“Apabila proyek tol itu melintasi area situs yang masih terpendam dan belum dikaji, jalur tol harus berubah, tidak melewati situs itu. Apabila jalur tol melewati situs temuan lepas, temuan bisa dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Jadi, ada dua opsi dan situs yang masih terpendam itu lebih diutamakan karena bisa saja masih menyimpan banyak bukti sejarah seperti prasasti, artefak, emas, dan lain-lain,” kata dia.

Kepala Desa Ngabeyan, Karanganom, Supriyadi, mengatakan banyak BCB berupa lingga dan yoni di Ngabeyan. Di desa itu juga terdapat struktur batu bata yang dimungkinkan bagian dari bangunan candi.

Disinggung rencana proyek tol, Supriyadi mengatakan belum ada kepastian soal jalur tol Solo-Jogja. Namun, dari rencana awal sebagian wilayah Ngabeyan masuk rencana pembangunan jalan bebas hambatan itu.

“Untuk kawasan yang ditemukan BCB dari gambar rencana proyek tol yang kami peroleh tidak masuk dalam rencana proyek tol atau masih aman,” kata dia.