Potensi Kebakaran di Wonogiri Tinggi, BPBD Ingatkan Warga Soal Ini

Warga bersama polisi membersihkan sisa kebakaran rumah di Janglot RT 002/RW 002, Desa Baturetno, Kecamatan Baturetno, Jumat (2/8/2019) pagi. (Istimewa - Humas Polres Wonogiri)
05 Agustus 2019 07:30 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Potensi kebakaran lahan dan bangunan di Wonogiri meningkat pada musim kemarau seperti saat ini. Warga diimbau tak lalai saat beraktivitas yang berhubungan dengan api atau listrik.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, sejak Januari hingga awal Agustus ini tercatat telah terjadi 19 peristiwa kebakaran di Wonogiri. Sejak kemarau lebih kurang dua bulan lalu kebakaran semakin sering terjadi.

Kasus didominasi kebakaran bangunan, seperti kandang ternak dan rumah. Sepekan terakhir terdapat beberapa kasus kebakaran lahan hutan. Bahkan, pernah terjadi kebakaran lahan hingga tiga kali dalam sehari, yakni Selasa (30/7/2019) lalu.

Kali pertama kebakaran lahan di Kerdu Kepik, Kecamatan Wonogiri, Selasa pagi. Beberapa jam kemudian kebakaran lahan terjadi di Keloran, Selogiri. Kebakaran serupa lalu terjadi di Jaten, Selogiri, malam harinya.

Selain itu terdapat kasus kebakaran kebun tebu dan rumpun bambu. Kasus kebakaran teranyar terjadi di Manjung, Kecamatan Wonogiri, yakni kebakaran kebun tebu, Kamis (1/8/2019) malam dan kebakaran rumah di Janglot RT 002/RW 002, Desa Baturetno, Kecamatan Baturetno, Jumat (2/8/2019) pukul 07.30 WIB.

Tidak ada korban jiwa maupun luka selama kebakaran terjadi sejak Januari lalu. Kepala UPTD Pemadam Kebakaran Wonogiri, Joko Santoso, saat ditemui Solopos.com di kantornya kawasan kota, akhir pekan lalu, menyampaikan potensi terjadinya kebakaran saat kemarau lebih tinggi daripada saat penghujan.

Tanaman di hutan mengering sehingga mudah terbakar saat tersulut api kecil sekali pun. Sinar matahari yang terik juga membuat kabel rumah kering.

Alhasil, kabel mudah terbakar saat korsleting listrik. Berbeda halnya saat penghujan. Ketika itu area sekitar kabel menjadi lembap.

“Saat penghujan pun potensi terjadinya kebakaran tetap ada. Tapi, saat kemarau seperti sekarang potensinya menjadi lebih tinggi. Warga harus lebih waspada,” kata Joko.

Dia melanjutkan kebakaran disebabkan beberapa faktor, seperti kelalaian manusia. Contohnya, ada warga yang membakar sampah atau semak belukar di kebun tanpa diawasi.

Akibatnya, api menjalar ke area sekitarnya hingga akhirnya membakar tanaman/pepohonan di hutan. Selain itu, ada warga yang tak mematikan bara sisa pembakaran kayu di tungku.

Akibatnya bara memicu munculnya api lalu membakar jerami atau kayu di dekatnya. Api pun membakar dapur, bahkan seluruh bagian rumah hingga ludes. Ada pula yang membakar tumpukan jerami di kandang sapi/kambing lalu meninggalkannya.

Warga melakukannya untuk menghangatkan ternak sekaligus mengusir nyamuk. Namun, api menjalar ke sekitarnya lalu membakar kandang dan ternak.

“Ada juga yang membakar sampah dekat rumpun bambu tanpa diawasi. Api menjalar lalu membakar rumpun bambu. Ada pula kebakaran karena korsleting listrik akibat stopkontak terlalu banyak sambungan kabel,” kata Joko.

Ironisnya, beberapa kasus kebakaran lainnya diduga kuat akibat disengaja. Joko mencontohkan kasus kebakaran kebun tebu. Menurut dia, kecil kemungkinan kebun tebu terbakar hanya karena puntung rokok.

Ada kemungkinan tebu yang sudah tua dibakar agar dedaunan kering bisa hilang dengan cepat. Ada kemungkinan pula warga sengaja membakar semak belukar di hutan untuk membuka lahan.

“Penyuluhan sering sekali kami lakukan melalui radio dan pertemuan langsung. Kami selalu menekankan instalasi listrik yang sudah 15 tahun sebaiknya diganti. Jangan membakar sampah di kebun! Kalau terpaksanya harus membakar, ditunggu dulu, diawasi sampai api dan bara benar-benar padam,” imbuh Joko.

Komandan Regu III Pemadam Kebakaran Wonogiri, Setyo Pamungkas, menambahkan layanan diberikan secara gratis. Warga tak perlu ragu-ragu melaporkan kejadian secepatnya di nomor telepon 0273 322013. Personel bertugas selama 24 jam setiap hari, sehingga sewaktu-waktu dapat menerima laporan.