Punya Batik hingga Waterboom, 7 Desa Dirintis Jadi Desa Wisata Sragen

Warga menaiki perahu cinta di bibir Waduk Kedung Ombo (WKO), tepatnya di Dusun Boyolayar, Desa Ngargosari, Sumberlawang, Sragen, Selasa (15/1 - 2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)
06 Agustus 2019 10:40 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Sebanyak tujuh desa yang tersebar di lima kecamatan di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dirintis menjadi desa wisata. Ketujuh desa itu meliputi:

1. Desa Pilang di Kecamatan Masaran sebagai sentra batik tulis

2. Desa Kliwonan di Kecamatan Masaran juga sentra batik tulis

3. Desa Krebet di Masaran dirintis menjadi desa wisata budaya

4. Desa Bonagung di Kecamatan Tanon mengusung potensi wahana permainan air atau waterboom.

5. Desa Boyolayar di Kecamatan Sumberlawang mengandalkan keindahan pemandangan tepi Waduk Kedung Ombo

6. Desa Doyong di Kecamatan Miri memiliki potensi air terjun Kedung Grujuk.

7. Desa Sigit di Kecamatan Tangen dirintis menjadi desa agrowisata dengan potensi kebun kelengkeng seluas 4 hektare.

“Desa-desa itu sudah punya embrio yang bisa dikembangkan sebagai desa wisata. Kami tinggal memberikan pembinaan dan pengarahan. Kami ingin menguji layak tidak desa-desa ini ditetapkan sebagai desa wisata,” ujar Kepala Bidang Destinasi Pengembangan Pariwisata, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Sragen, Muhtar Ahmadi, kepada solopos.com, Senin (5/8/2019).

Muhtar tidak memberikan tenggat kapan tujuh desa itu diusulkan sebagai desa wisata melalui surat keputusan (SK) Bupati. Menurutnya, bertahan atau tidak potensi wisata yang dimiliki tujuh desa itu tergantung bagaimana cara warga setempat dalam merawat atau melestarikannnya.

Dalam hal ini, Pemkab Sragen hanya berwenang mendampingi sumber daya manusia (SDM) melalui berbagai kegiatan workshop atau pelatihan. 

Saat ini Sragen memiliki tiga desa wisata yang sudah ditetapkan melalui SK Bupati Sragen No. 556/13/002/2012. Tiga desa itu adalah Jambeyan, Jetis dan Sukorejo (Betisrejo). Ketiga desa di Kecamatan Sambirejo itu memiliki potensi sebagai sentra pertanian organik atau kawasan agropolitan.

Ditemui di kesempatan berbeda, tokoh masyarakat Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, Suwarno, mengatakan Pemdes Bonagung sudah memberikan penyertaan modal senilai Rp50 juta pada 2018 dan Rp100 juta pada 2019 kepada BUM Desa untuk mengelola waterboom.

Dana senilai Rp100 juta tersebut rencananya digunakan untuk pembangunan kolam pemancingan berikut warung apung serta pembangunan kolam renang kedua dengan kedalaman 100 cm-125 cm.

Objek wisata air ini dibangun tak jauh dari Bumi Perkemahan Raden Ranu Kudumo di Dusun Pancuran, Desa Kebonagung, Kecamatan Tanon, Sragen. “Objek wisata air ini dibuka pada 1 Januari 2019. Pada enam bulan pertama, sudah ada 6.000 pengunjung yang datang,” terang Suwarno.