1.032 Ha Lahan Padi di Karanganyar Kekeringan, Begini Mengatasinya

Tukimin, 53, melihat kondisi sawahnya yang kering di Dusun Bancak 1, Desa Gebyog, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar, Senin (5/8 - 2019). (Solopos/Wahyu Prakoso).
06 Agustus 2019 14:15 WIB Wahyu Prakoso Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Lahan pertanian seluas 1.032 hektare di Kabupaten Karanganyar terdampak kekeringan mulai kekeringan ringan hingga puso. Perinciannya kekeringan ringan seluas 95 hektare, kekeringan sedang 24 hektare, kekeringan berat 310 hektare, dan puso 603 hektare.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar yang dihimpun solopos.com, Senin (5/8/2019), jumlah luas sawah saat ini sekitar 22.000 hektare. 

Kepala Bidang Tanaman Pangan Holtikultura, Riyanto Sujudi, menjelaskan kekeringan maupun gagal panen yang terjadi memengaruhi hasil produksi beras Karanganyar. Namun ia memastikan dampak tersebut tidak signifikan.

“Ada 1.032 hektare yang terdampak kekeringan. Satu hektare rata-rata menghasilkan gabah kering panen lima ton,” katanya kepada solopos.com saat ditemui di kantornya, Senin.

Dia menjelaskan, untuk mengantisipasi dampak kekeringan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar menyalurkan program padi gogo di lahan sawah (Gowah) dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Program tersebut berupa pembagian bibit padi yang tahan kekeringan dan pembagian pompa air.

“Bagi petani yang berminat dapat langsung menghubungi kelompok tani. Nanti ada mantri tani yang membantu pendataan berapa luas lahan yang akan ditanami bibit dan kondisi lahan,” ungkapnya.

Menurut dia, petani belum banyak memanfaatkan program tersebut. Petani yang sudah mengajukan Gowah berasal dari Kecamatan Colomadu dan Tasikmadu.

“Kami tawarkan melalui mantri tani. Tapi kendalanya enggak ada air. Kalau ada sumur dangkal kami bisa upayakan dengan pompa air. Tetapi enggak ada sumber air terdekat tidak bisa jalan. Kalau memakai sumur dalam tidak boleh dari pusat karena akan merusak lingkungan,” ujarnya.

Riyanto mengatakan Pemkab Karanganyar juga menyediakan benih kedelai dan jagung untuk masa tanam tiga. Namun, keduanya kurang diminati petani.

Sementara itu, Kepala Seksi Bidang Sarpras Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar, M. Nasi, menjelaskan, petani dapat untuk menekan kerugian akibat gagal panen dengan mengikuti mengikuti program asuransi usaha tani padi (AUTP). Bekerjasama dengan PT Jasa Asuransi Indonesia para petani dapat perlindungan sebanyak Rp6 juta per hektare.

“Kami mendapatkan kouta dari APBN Provinsi Jateng sebanyak 1.260 hektare. Biaya asuransi bagi petani yang dianggap kurang mampu ditanggung oleh Provinsi. Lahan yang dicover seluas 0,25 hektare,” katanya.

Dia mengatakan, Pemerintah juga memberikan kuota tidak terbatas bagi petani yang ingin menggunakan jasa asuransi tersebut. Pemerintah memberikan subsidi bagi petani sebanyak 80% sehingga cukup membayar premi sebanyak 36.000 per hektare dalam sekali massa tanam.