Politikus Hanura: Gibran Nyalon Wali Kota Solo? Jadi Ketua RW Dulu Saja!

Gibran Rakabuming Raka (kiri) bersama ibunda, Iriana; istri, Selvi Ananda; dan anaknya, Jan Ethes, saat berjalan-jalan di Solo Paragon Mall, Sabtu (27/7/2019) malam. (Solopos - Kurniawan)
07 Agustus 2019 15:15 WIB Kurniawan Solo Share :

Solopos.com,   SOLO -- Putra pertama Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka, disarankan menjadi ketua rukun warga (RW) di lingkungan tempat tinggalnya dulu sebelum berpikir untuk maju sebagai calon wali kota (cawali) Solo.

Saran itu disampaikan anggota Komisi I DPRD Solo yang juga Ketua DPC Partai Hanura Solo, Abdullah A.A. Politikus kawakan Kota Bengawan itu mengaku dikejutkan dengan mencuatnya nama Gibran sebagai figur potensial cawali Solo. 

Walau menyatakan mendukung gerakan anak muda, dia menyayangkan bila Solo dipimpin figur yang belum berpengalaman.

“Kalau saya melihat [Gibran] masih terlalu dini lah. Ya mungkin sementara ini jadi ketua RW dulu untuk latihan. Saya melihat, maaf-maaf saja, jangan euforia seperti itu. Memilih pemimpin hendaknya dari kemampuan,” ujar dia, Selasa (6/8/2019).

Abdullah menyatakan dirinya tidak bermaksud mengecilkan sosok Gibran sebagai pengusaha muda. Dia hanya tidak ingin dalam mencari pemimpin pemerintahan atau kepala daerah hanya terkesan main-main.

Abdullah menilai keberhasilan Gibran menjadi pengusaha kuliner tidak lepas dari statusnya sebagai anak Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Karena dia anaknya Jokowi, buka martabak bagus. Maaf lo ya. Coba dia bukan anak dari Pak Jokowi,” kata dia.

Abdullah mengajak semua pihak mencermati peran dan kontribusi para tokoh yang disebut-sebut potensial menjadi cawali Solo. Dimulai dari apa yang selama ini mereka berikan kepada masyarakat (tetangga) di lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing.

“Coba tanya ke Gibran, apa yang telah dia berikan ke lingkungannya. Apa saja yang telah dia perbuat. Termasuk di sekolah, apa karier organisasi di sekolahnya. Apakah pengurus OSIS, Pramuka, atau apa. Jangan hanya popularitas,” sambung dia.

Di sisi lain, Abdullah menilai sosok Achmad Purnomo dan Teguh Prakosa merupakan figur yang cukup baik sebagai cawali dan cawawali Solo. Dua orang itu belakangan santer disebut-sebut sebagai pasangan cawali-cawawali Solo yang akan diusung PDIP.

“Saya melihat sudah ada arah Pak Pur dengan Pak Teguh sudah matang dan tepat. Saya melihat mereka lebih positif sebagai cawali-cawawali,” imbuh dia.

Penuturan senada disampaikan legislator Fraksi PDIP DPRD Solo, Wawanto, yang menyarankan Gibran terlebih dulu belajar di dunia politik sebelum benar-benar terjun di Pilkada Solo.

“Sah-sah saja hak warga negara untuk mencalonkan diri dan PDIP terbuka dengan siapa pun. Tapi kan ada mekanisme internal.  Saya sarankan ke Gibran, karena masih muda, lebih baik belajar dulu di dunia politik,” ujar Wawanto kepada Solopos.com melalui telepon.

Dia menilai posisi Gibran saat ini berbeda dengan Jokowi saat Pilkada Solo 2005 lalu. Saat Pilkada Solo 2005 usia Jokowi sudah cukup matang dan banyak makan asam-garam pengalaman. Jokowi juga banyak malang melintang di mancanegara.