Hanura: Gibran Buka Martabak Bagus, Coba Bukan Anak Pak Jokowi

Gibran Rakabuming Raka bersama Ilham Akbar Habibie saat bertukar merchandise jaket R80 dan dan t-shirt TNB (Tugas Negara Bos) dalam penutupan Habibie Festival 2018 di De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar, Minggu (22/4 - 2018). (Solopos / M Ferri Setiawan)
07 Agustus 2019 19:40 WIB Kurniawan Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah politikus di Kota Solo menunjukkan resistensi terhadap wacana pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai Wali Kota Solo dalam Pilkada 2020. Tak hanya dari kalangan PDIP, Hanura pun ikut angkat bicara meminta Gibran belajar dulu.

Saran itu pernah disampaikan oleh Ketua DPC PDIP Solo, FX. Hadi Rudyatmo. Kini giliran anggota Komisi I DPRD Solo yang juga Ketua DPC Partai Hanura Solo, Abdullah A.A. Menurutnya, keberhasilan Gibran dalam dunia usaha bukan jaminan.

Abdullah menilai keberhasilan Gibran menjadi pengusaha kuliner tidak lepas dari statusnya sebagai anak Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Karena dia anaknya Jokowi, buka martabak bagus. Maaf loh ya. Coba dia bukan anak dari Pak Jokowi,” kata Abdullah A.A., Selasa (6/8/2019).

Politikus kawakan Solo itu mengaku dikejutkan dengan mencuatnya nama Gibran sebagai figur potensial cawali Solo. Walau menyatakan mendukung gerakan anak muda, dia menyayangkan bila Solo dipimpin figur yang belum berpengalaman.

“Kalau saya melihat [Gibran] masih terlalu dini lah. Ya mungkin sementara ini jadi ketua RW dulu lah untuk latihan. Saya melihat, maaf-maaf saja, jangan euforia seperti itu. Memilih pemimpin hendaknya dari kemampuan,” kata dia.

Abdullah menyatakan dirinya tidak bermaksud mengecilkan sosok Gibran sebagai pengusaha muda di bidang kuliner (martabak). Tapi dia hanya tidak ingin dalam mencari pemimpin pemerintahan atau kepala daerah tidak hanya terkesan main-main.

Abdullah mengajak semua pihak mencermati peran dan kontribusi para tokoh yang disebut-sebut potensial menjadi cawali Solo. Apa yang selama ini mereka berikan kepada masyarakat (tetangga) di lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing.

“Coba tanya ke Gibran, apa yang telah dia berikan ke lingkungannya. Apa saja yang telah dia perbuat. Termasuk di sekolah, apa karir organisasi di sekolahnya. Apakah pengurus OSIS, Pramuka, atau apa. Jangan hanya popularitas,” sambung dia.

Di sisi lain Abdullah menilai sosok Achmad Purnomo dan Teguh Prakosa sebagai figur cukup baik sebagai cawali dan cawawali Solo. Dua orang itu belakangan santer disebut-sebut sebagai pasangan cawali-cawawali Solo yang akan diusung oleh PDIP.

Proses menuju turunnya rekomendasi cawali-cawawali Solo dari PDIP sendiri masih panjang. Belum ada kepastian siapa yang akan diusung oleh partai pemenang Pemilu 2019 itu.

“Saya melihat sudah ada arah Pak Pur dengan Pak Teguh sudah matang dan tepat. Saya melihat mereka lebih positif sebagai cawali-cawawali,” imbuh dia.