Layanan Transportasi Solo-Sangiran-Sumberlawang Tersedia Mulai 2020

Ilustrasi transportasi umum (Solopos/Dok.)
07 Agustus 2019 11:40 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Penyediaan layanan transportasi massal koridor Solo-Sangiran-Sumberlawang menjadi prioritas dalam program aglomerasi angkutan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) pada 2020.

Kepala Bidang Angkutan Umum, Dinas Perhubungan (Dishub) Sragen, Bintoro Setiyadi, mengatakan sebelumnya Pemprov Jateng memprioritaskan penyediaan layanan transportasi koridor Terminal Tirtonadi Solo-Terminal Pilangsari Sragen.

Namun, belakangan penyediaan layanan transportasi koridor Tirtonadi-Sangiran-Sumberlawang lebih diprioritaskan ketimbang koridor Tirtonadi-Pilangsari.

“Alasannya karena Pemprov Jateng ingin layanan transportasi itu bisa mendukung pariwisata di Situs Sangiran. Jadi, nanti bus dari Solo akan masuk ke wilayah Sangiran kemudian kembali ke jalur Solo-Purwodadi menuju Gemolong dan diteruskan ke Sumberlawang,” papar Bintoro kepada solopos.com, Selasa (6/8/2019).

Dishub Sragen mendorong Pemprov Jateng supaya pengusaha transportasi lokal tetap dilibatkan dalam program aglomerasi angkutan di Soloraya itu. Dishub Sragen menginginkan ada keberpihakan kepada pengusaha transportasi lama supaya program aglomerasi angkutan ini tidak menimbulkan gejolak.

“Bagaimanapun, mereka sudah berjasa di bidang layanan transportasi di jalur itu. Harapan kami bus yang digunakan nanti ukuran medium dengan 26-29 penumpang. Tapi hal-hal yang lebih mendetail serta rasionalisasinya bagaimana kami belum tahu. Secara teknis Pemprov Jateng yang lebih tahu,” ujarnya.

Bintoro mengakui saat ini banyak warga mengeluhkan layanan transportasi Solo-Sragen. Kebanyakan bus itu mengetem terlalu lama di beberapa tempat sehingga Sragen-Solo bisa ditempuh sekitar 2 jam.

Dengan diterapkannya aglomerasi angkutan massal, kata Bintoro, standardisasi layanan transportasi akan diberlakukan. Semua bus nantinya akan dilengkapi oleh air conditioner (AC) demi menambah kenyamanan penumpang.

“Nanti ada jaminan ketepatan waktu datang dan berangkat. Entah kosong atau penuh, kalau sudah saatnya jalan ya jalan. Kasihan anak sekolah kalau bus yang mereka tumpangi terlambat datang,” jelas Bintoro.

Aglomerasi angkutan itu, kata Bintoro, bertujuan mengembalikan kepercayaan publik terhadap layanan transportasi. Program itu sekaligus bertujuan memotivasi warga untuk memaksimalkan penggunaan jasa angkutan umum demi mengurangi potensi kemacetan di jalan.

“Aglomerasi angkutan ini juga akan menghidupkan kembali gairan usaha angkutan pedesaan. Mereka bisa difungsikan sebagai angkutan feeder,” ucapnya.