Pilkada Sragen 2020, Yuni Diprediksi Maju Lewat PDIP

Bupati Yuni bersama suaminya Akbar Zulkifli Oesman mengacungkan jari kelingking yang sudah dicelupkan ke tinta seusai menggunakan hak pilihnya di TPS 21 Kroyo, Karangmalang, Sragen, Rabu (17/4/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
07 Agustus 2019 21:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati diprediksi tidak akan maju Pilkada 2020 lewat Partai Gerindra yang mengusungkan pada pilkada sebelumnya, melainkan lewat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Peluang Yuni maju lewat PDIP lantaran adik kandungnya Untung Wibowo Sukowati secara definitif menjadi Ketua DPC PDIP Sragen. Prediksi tersebut disampaikan pengamat politik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Agus Riewanto, saat dihubungi Solopos.com, Rabu (7/8/2019).

Agus membaca PDIP tidak cukup percaya diri mengusung kader sendiri tetapi tertarik dengan figur petahana yang sudah menjabat Bupati selama empat tahun terakhir. Yuni, sapaan Bupati, berangkat jadi Bupati Sragen lewat Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Sampai sekarang, Agus menilai ketokohan Yuni masih memesona partai lain dalam Pilkada Sragen. “Kalau saya jadi PDIP tetap ikut mencalonkan diri sekalipun harus koalisi dengan Gerindra. Tetapi bila melihat Yuni untuk jadi kutu loncat keluar dari Gerindra dan masuk PDIP itu kemungkinannya 60%. Soalnya keberadaan Yuni sebagai Bupati itu tidak menguntungkan Gerindra tetapi cenderung menguntungkan PDIP,” ujar Agus.

Agus melihat Gerindra tidak akan mempertahankan Yuni karena tidak menguntungkan secara langsung bagi Gerindra. Buktinya hasil Pemilu Legislatif 2019 kursi Gerindra tidak berubah dan justru PDIP bertambah dua kursi.

Dia mengatakan ketika melepas Yuni barangkali Gerindra bisa mendapatkan sesuatu secara politis. Agus menilai figur Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno kemungkinan masih bertahan dengan Yuni.

Agus menyatakan pasangan Yuni-Dedy sampai sekarang masih menjadi pasangan ideal. Dedy yang merupakan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di mata Agus lebih supel daripada kader PKS lainnya.

Di sisi lain, Agus mengetahui Yuni-Dedy masih ada chemistry jika dilihat dari foto-foto yang terpampang belakangan masih selalu berdua. “Politik itu tidak selalu menang dan kalah tetapi harus memperhitungkan chemistry juga. Kalau pendamping Yuni dari kelembagaan partai belum jaminan bisa chemistry. Semua tergantung Yuni mau pilih chemistry yang ada atau memilih lewat kelembagaan partai,” ujarnya.

Dari fakta-fakta politik tersebut, Agus menyampaikan peluang koalisi PDIP, Gerindra, dan PKS terbuka lebar. Meskipun isu yang beredar dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga mulai menyiapkan figur pendamping Yuni.

Secara politis, menurut Agus, Yuni lebih beruntung memilih Dedy daripada calon lain karena peluang Dedy untuk maju sebagai calon bupati itu relatif kecil.

Pengamat politik Sragen yang juga sukarelawan Yuni-Dedy, Saiful Hidayat, saat ditemui Solopos.com belum lama ini mengakui figur Yuni masih kuat meskipun ada kelemahan-kelemahan selama memimpin Sragen.

Saiful melihat satu periode yang hanya tiga tahun ke depan menjadi problem bagi rival Yuni. Saiful mengatakan kalau Yuni maju lewat PDIP, ada peluang partai di luar PDIP bisa bersatu dalam koalisi.

“Saya kira PKS, Gerindra, PAN, Golkar, dan Demokrat tidak mungkin bersatu dengan PDIP. Kalau Yuni dan Dedy pisah maka bisa berpeluang adanya calon lain. Peluang itu ada karena ada isu figur dari Nahdlatul Ulama yang bakal disandingkan dengan Yuni,” katanya.

Sementara itu, Bupati Yuni belum mengambil keputusan mau maju lewat partai mana dalam Pilkada 2020 mendatang. Kini, Yuni masih fokus beribadah haji di Tanah Suci.

“Kalau saya sudah memutuskan, saya kabari,” tulis Yuni dalam pesan singkatnya lewat Whatsapp kepada Solopos.com, Selasa (6/8/2019) malam.

Sebelumnya, Sekretaris DPC PDIP Sragen Suparno mengatakan insya Allah Yuni akan maju pilkada lewat PDIP. Namun Suparno masih menunggu keputusan dari hasil kongres PDIP.

Bendahara PDIP Sragen Sugiyamto pun enggan berkomentar soal peluang Yuni ke PDIP karena masih menunggu hasil kongres PDIP.