PDIP Terlalu Kuat, Parpol Lain Patah Semangat di Pilkada Boyolali 2020

ilustrasi pemilu. (Solopos/Whisnu Paksa)
07 Agustus 2019 22:15 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com BOYOLALI -- Sejumlah partai politik (parpol) di Boyolali mengaku sudah kehilangan semangat menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 mendatang. Hal itu disebabkan kedigdayaan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang dinilai terlalu kuat.

Perolehan kursi DPRD Boyolali pada Pemilu Legislatif 2019 yang didominasi PDIP mendasari kalkulasi politik dalam pesta pergantian pemimpin di Kota Susu. Berdasarkan berita acara pleno penghitungan suara Komisi Pemilihan Umum (KPU) Boyolali, PDIP akan memperoleh 35 kursi dari total 45 kursi DPRD Boyolali.

Partai Golkar memperoleh empat kursi, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tiga kursi, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dua kursi, dan Partai Gerindra satu kursi.

Ketua DPC Partai Gerindra Boyolali, Singgih Usman, mengatakan dengan perolehan satu kursi tersebut, saat ini partainya tak lagi memiliki posisi tawar yang kuat.

“Posisi sekarang Gerindra ini kami bilang tidak ada apa-apanya. Dalam arti pada Pilkada nanti bukan menjadi kunci, karena satu mau ke mana-mana ya sama saja,” ujarnya kepada Solopos.com, Rabu (7/8/2019).

Dengan kondisi itu pula, dia secara pribadi tidak berminat mencalonkan diri sebagai pimpinan daerah maupun memunculkan tokoh lain untuk maju secara independen menggantikan Seno Samodro-Said Hidayat yang diusung PDIP dalam Pilkada 2015 lalu.

“Enggak [berminat nyalon] lah. Saya kira siapa pun calon lain di luar berat untuk melawan PDIP. Apalagi di Boyolali ini tidak ada tokoh yang cukup kuat sebagai calon independen,” imbuhnya.

Sedangkan mengenai sikap politik di DPRD, dia berencana bergabung dengan PKS untuk membentuk fraksi. Sementara itu, Wakil Ketua DPD PKS Boyolali Nur Arifin mengakui masih ada peluang bagi parpolnya dan parpol lain selain PDIP untuk mengusung calon bupati-wakil bupati secara mandiri.

Namun hingga saat ini dia belum menjalin komunikasi dengan parpol lain untuk membicarakan hal tersebut. “Yang jelas dalam Pilkada nanti kami PKS akan proaktif. Proaktif yang seperti apa, nanti akan kami tentukan setelah pelantikan anggota Dewan dan ada komunikasi dengan parpol lain. Yang jelas, masih ada peluang bagi parpol di luar PDIP untuk bekoalisi mengusung calon sendiri,” ujarnya.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Didik G. Suharto menilai berat bagi parpol lain untuk menang bersaing melawan PDIP di Boyolali.

Dengan kata lain, tren kemenangan PDIP dalam pilkada-pilkada sebelumnya akan terus berlanjut jika tidak ada sesuatu yang luar biasa.

“Perspektif politik tidak bisa terlepas dari tren, dan ini ini akan berlanjut. Artinya kalau tidak ada sesuatu yang luar biasa, tren akan konsisten. Meskipun Pak Seno [Seno Samodro] sudah tidak boleh lagi berkompertisi karena sudah dua periode menjabat, PDIP masih kuat. Siapa pun calon yang dimunculkan PDIP tidak akan mempengaruhi kekuatan mereka,” ujarnya.

Disinggung peluang parpol lain untuk bersaing dalam Pilkada 2020, Didik mengatakan peluang tersebut tetap ada. Namun dia juga memprediski PDIP tidak akan tinggal diam mengadang rivalnya dalam kontestasi tersebut.

Dia menambahkan dalam Pilkada, selain faktor mesin partai juga ada aspek lain yaitu popularitas. Ini cukup penting. Kalau di luar PDIP bisa muncul calon yang punya popularitas dan punya akar massa yang kuat, dia memperkirakan mereka tetap punya peluang.

"Tapi kita tidak bisa memungkiri PDIP pastinya tidak akan tinggal diam untuk mengadang pihak di luar yang punya potensi," ujar dia.